Terkini
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buku. Tampilkan semua postingan
10.52
Energi dalam segala teori bersifat menular. Penyair yang gembira saat menulis karya berefek kegembiraan pada pembacanya. Kegembiraan adalah modal kreativitas. Saya meyakini teman—teman penullis puisi ini telah memiliki pengalaman menullis yang sedikit panjang. Keistikomahan menulis teman-teman ini karena mereka telah berhasil merawat kegembiraaan dalam proses menulis.
Mas Choirur Rofiq, penyair, pegiat literasi, dan penggerak Ikatan Guru Indonesia (IGI) Cabang Tuban ini, juga beriang hati dengan nada puisinya sebagai pengkhotbah. Cak Rofiq melalui sajak “Merajut Satu Negeriku” bersenandung begini: Tuan-Tuan,/Tahukah Tuan kalau Negeri ini darahku?//Kerajaan demi Kerajaan dirajut dalam indahnya Negeri kesatuan/Itu bersimbah darah Tuan!//Tuan-Tuan,/Tahukah Tuan bahwa kebulatan tekad kami/telah berkumandang seantero Jagad ini//
Kegembiraannya mengajak “NKRI harga mati” musabab Cak Rofiq mengakhiri puisinya dengan gembira begini: Tuan-Tuan,/Plis.....!/Janganlah buat kami marah/Janganlah buat kami pongah/Janganlah buat kami membabi buta untuk berdendam kesunat antaranakbangsa/Jagalah Negeri kami, jagalah anak cucu kami, jagalah persatuan Bangsa kami, dan NKRI adalah harga mati//
Maka dapatlah saya belajar dari para penyair, bahwa untuk bisa membuat puisi, gembiralah. Gembira membawa efek rileks. Rileks memungkinkan kerja kreatif datang. Bismillah gembira ya para penyair Tuban. Hehehe.
Fakta lain menunjukkan catatan agak penting gelagat kreativitas penyair muda dalam antologi ini adalah upaya menunjukkan eksistensi trah wong Tuban. Orang Tuban dalam terminologi genologis adalah pemilik jiwa berani, melawan, dan reaktif. Jika kita membaca sejarah karakter orang Tuban yang demikian tidak dapat dilepaskan dengan sejarah kontroversi Mbah Ronggolawe, pemimpin pertama kadipaten ini sebagai sempalan kekuasaan Majapahit.
“Cah Tuban Dilawan”. Setidaknya jargon ini cocok dalam memberikan apresiasi sajak penyair muda dan akademisi yang sedang menggarap proyek kecil tentang kemaritiman Tuban ini. Orang khas tuban tidak bisa diam atas ketiranian. Orang Tuban kukuh atas pilihannnya, meski itu penderitaan dalam penilaian umum.
Entah sudah berapa kali saya mengurasi karya-karya penulis Tuban. Secara kebetulan atau memang kesetiaan pikiran saya, selalu kutemukan benang merah bahwa penulis Tuban teramat sulit keluar dari zona ‘perwalian’.
Sajak “Ahad Pagi Di Bumi Wali” karya Siti Umi Choiriyah menasbikan selalu saja tidak bisa dilepaskan orang Tuban, penyair Tuban, dan entah identitas apa entang Tuban selalu berbelitkelindan dengan ‘wali’ kita.
Serupa Umi, Endang Saptarina melalui “Cerita di Kota Tua” berkisah dalam pagutan sepi indahnya begini:
Serupa dunia wali, dunia religius, simetris pula bumi santri. Begitu entitas Tuban dalam kacamata para pengarang Tuban. Maka tidak heran jika penyair yang juga peneliti pikiran-pikiran Pahlawan Wanita Kartini, Alkhorida namanya, mengusung judul sajak “Kampung Santri”:
Kerakap Tumbuh di Batu-batu
Written By Kang Naryo on Senin, 22 Juni 2020 | 10.52
Hidup adalah Pilihan:
Mengalah, Menerima, atau Melawan
Oleh: Cak Sariban
“Hidup adalah pilihan”. Demikian ujaran yang sering kita dengar-rasakan. Kita dapat menentukan hidup kita melalui pilihan kita. Pilihan para penyair dalam antologi ini--yang jumlahnya 27 penyair: Joyo Juwoto, Eva Septiana R.A., Komet Djanaka Putra, Andriana Tanti, Indah H Wahyuni, Tri Asih, Budi Wasasih, Endang Saptarina, Indah H Wahyuni, Alkhorida, Lilik Dyah Wulandari, Moch. Rif’an, Tri Mariani, Muflihatin Mara, Moch. Sunaryo, Setyo Pamuji, Abdul Syakur, Nur Hidayah, Oktian Ika Ardhiani, Titik Istiana, Siti Umi Choiriyah, Siti Fatimah Suyono, Nursholihah, M. Choirur Rofiq, Didin Irawati, Sriyatni, dan tentu saya sederi Cak Sariban--, memilih jalan hidup gembira. Hal ini dapat kita rasakan dari sajak-sajak yang mereka tulis.
Gembira. Kesan demikian juga kurasakan saat membaca puluhanpuisi karya teman-teman saat menulis kurasi ini. Mengapa saya gembira membacanya? Jawabannya mudah. Karena puisi-puisi ini ditulis dengan perasaan gembira.
Energi dalam segala teori bersifat menular. Penyair yang gembira saat menulis karya berefek kegembiraan pada pembacanya. Kegembiraan adalah modal kreativitas. Saya meyakini teman—teman penullis puisi ini telah memiliki pengalaman menullis yang sedikit panjang. Keistikomahan menulis teman-teman ini karena mereka telah berhasil merawat kegembiraaan dalam proses menulis.
Lihatlah rasa gembira para penyair dalam bait-bait sajaknya. Saya mencontohkan dua penyair yang memiki gairah menulis dengan keriangan, kegembiraan, kerilekan. Dua penyair itu ya kalau tidak salah representasi semua penyair yang ada dalam antologi ini. Penyair Nursholihah melalui saja “Ayat-Ayat Kenyang” dan M. Choirur Rofiq melalui sajak “Merajut Satu Negeriku” merasakan rasa girang riang dalam kreativitasnya.
Berikut pengakuan Mbak Nursholihah, penyair penyuka kacamata lebar ini, dalam sajaknya: Sore ini aku kegirangan/Tadi pagi beras, kelapa, kunyit, garam, sudah terbeli/Buat ditanak besok dini hari sayang .../Nasi kuning, sambal kelapa, ayam bakar/Dan jajanan tempo dulu, uler-uler/Itu hanya nama/Bukan ulat pemakan daun padi/Padiku hamil/Tubuhnya membengkak/Daunnya hijau segar menggoda/Ya .../Menggoda...//
Mas Choirur Rofiq, penyair, pegiat literasi, dan penggerak Ikatan Guru Indonesia (IGI) Cabang Tuban ini, juga beriang hati dengan nada puisinya sebagai pengkhotbah. Cak Rofiq melalui sajak “Merajut Satu Negeriku” bersenandung begini: Tuan-Tuan,/Tahukah Tuan kalau Negeri ini darahku?//Kerajaan demi Kerajaan dirajut dalam indahnya Negeri kesatuan/Itu bersimbah darah Tuan!//Tuan-Tuan,/Tahukah Tuan bahwa kebulatan tekad kami/telah berkumandang seantero Jagad ini//
Kegembiraannya mengajak “NKRI harga mati” musabab Cak Rofiq mengakhiri puisinya dengan gembira begini: Tuan-Tuan,/Plis.....!/Janganlah buat kami marah/Janganlah buat kami pongah/Janganlah buat kami membabi buta untuk berdendam kesunat antaranakbangsa/Jagalah Negeri kami, jagalah anak cucu kami, jagalah persatuan Bangsa kami, dan NKRI adalah harga mati//
Maka dapatlah saya belajar dari para penyair, bahwa untuk bisa membuat puisi, gembiralah. Gembira membawa efek rileks. Rileks memungkinkan kerja kreatif datang. Bismillah gembira ya para penyair Tuban. Hehehe.
Darah Ronggolawe: Keberanian
Fakta lain menunjukkan catatan agak penting gelagat kreativitas penyair muda dalam antologi ini adalah upaya menunjukkan eksistensi trah wong Tuban. Orang Tuban dalam terminologi genologis adalah pemilik jiwa berani, melawan, dan reaktif. Jika kita membaca sejarah karakter orang Tuban yang demikian tidak dapat dilepaskan dengan sejarah kontroversi Mbah Ronggolawe, pemimpin pertama kadipaten ini sebagai sempalan kekuasaan Majapahit.
Mari kita simak dengan sungguh sajak Komet Djanaka Putra berjudul “Sebatang Jagung di Depan Gedung DPR”.
...
Gelap dalam gugusan medung kotaku
seperti tangisan banyi pada malam hari,
yang merindukan air susu ibunya
renggekkan pecah di ujung gerimis yang telah reda
....
Gemuruh gelombang lebih menderu suara sore itu
pada emperan kota, berbondong-bondong para petani dengan wajah legam
sebatag jagung mengadu tanpa restu dan temu
suara meledak di atas jalan kota pecah tanpa sapa, kemacetan birokrat dalam gedung seperti macetnya jalan ibu kota sore itu
“Kami, adalah petani yang tak meragukan atas kehidupan dan kesejahteraan kami
lantas kenapa Bapak meragukan kesejahteraan kami?
Biar sebatang jagung kami tanam, kami tak akan kelaparan di atas tanah kami”
Suara lantang memecah langit-langit di kotaku.
...
“Cah Tuban Dilawan”. Setidaknya jargon ini cocok dalam memberikan apresiasi sajak penyair muda dan akademisi yang sedang menggarap proyek kecil tentang kemaritiman Tuban ini. Orang khas tuban tidak bisa diam atas ketiranian. Orang Tuban kukuh atas pilihannnya, meski itu penderitaan dalam penilaian umum.
Komet sebagai representasi “manusia kecil Tuban’ begitu gagahnya atas keyakinan hidup dengan berkoar: “Kami, adalah petani yang tak meragukan atas kehidupan dan kesejahteraan kami/lantas kenapa Bapak meragukan kesejahteraan kami?/Biar sebatang jagung kami tanam, kami tak akan kelaparan di atas tanah kami”//
Orang-orang pemberani, penuh keyakinan, dalam hidup juga tersaji dalam puisi-puisi: Eva Septiana RA. Dalam sajak “Para Pejalan Malam”, Eva begitu gagahnya mewakili nelayan Tuban menulis penuh keberanian:
...
para pejalan malam menebarkan jala
mendayung asa di samudera raya
kehidupan penuh marabahaya
bercakap dengan dinginnya udara
melupa dekap hangatnya keluarga
demi tangkapan melimpah
menembus pekat malam
dipermainkan gelombang samudera raya
semangat mengkristal di lautan luas
melintasi jarak menuju mimpi
bahasamu adalah ombak
bukan proposal di meja para birokrat
jika ikan layang, cakalang, kerapu memenuhi perahu
desir angin berkabar pada perempuan setia
di bilik kamarmu
...
Keberanian orang-orang Tuban pernah ditulis novelis Pramoedya Ananta Toer dalam novel Arus Balik. Di sana dikisahkan betapa penduduk Tuban terkenal dengan keberanian dan keahliannnya dalam bergulat. Memori saya berbisik: ada hubungan yang erat antara novel itu dengan sajak Budi Wasasih dalam antologi ini.
Mari kita nikmati keberanian orang Tuban dalam sajak “Gelut Pathol” karya Asih berikut.
Alun mengalun layar sejarah terkembang
tentang adu sayembara para pendekar
untuk menjaga pelabuhan Tuban
Menghalau perompak yang membajak
Lalu masa berganti
gelut pathol mati
tak terlihat lagi nelayan-nelayan muda berperawakan kuat beradu strategi
pasang kuda-kuda sportivitas buah keluhuran budi
tak terdengar pula sorak-sorai penonton bersahutan
gulat nelayan pesisir Tuban telah puput
berkalang di pantainya sendiri
....
Komet, Eva, Asih memiliki gaya yang nyaris sama: protes. Protes terhadap dikotomi kekuasaan dimana ujung kuasa pada kemakmuran dan ujung jelata pada kemiskinan.Karena miskin, modal paling murah baginya adalah keberanian. Inilah khas darah Ronggolawe.
Rasa empati terhadap wong cilik yang juga dalam silsilah orang baik Tuban dapat pula kita pelajari sejarah Raden Sahid yang “mencuri” harta orang kaya untuk dibagi-bagikan kepada penduduk miskin. Mbah Raden Sahid yang kemudian disucikan Allah menjadi Sunan Kalijaga.
Maka, catatan kemudian benarkah Tuban identik dengan jiwa saleh seorang brandal yang muaranya juga kasih Tuhan datang. Kasih Tuhan datang lantaran sekalipun brandal dalam benih jiwanya bersemayam gelora jiwa kasih sesama. Wih Tuban Rek. Maka, muaranya juga menjadi “bumi wali”.
Kemanapun, Kembali Bumi Wali
Entah sudah berapa kali saya mengurasi karya-karya penulis Tuban. Secara kebetulan atau memang kesetiaan pikiran saya, selalu kutemukan benang merah bahwa penulis Tuban teramat sulit keluar dari zona ‘perwalian’.
Saya berpikir, jangan-jangan semua penyair Tuban adalah wali. Kalau bukan wali ya calon wali. Kalau bukan calon wali, ya temannya wali. Kalau bukan temannya wali, ya pecinta wali.
Ya kalimat yang terakhir itu dibuktikan oleh penyair Moch. Rif’an,Titik Istiana, Siti Umi Choiriyah, Endang Saptarina, dan Alkhorida. Mari kita cermatnikmati sajak-sajak penyair tersebut.
Dalam “Ziarah Sang Sunan di Bumi Wali”, Moch. Rif’an berujar:
Menyusuri lorong kecil gang gupitan
Hati terpusat pada sang sunan
Sowan berziarah haturkan penghormatan
Perjuangan nan gigih penuh pengorbanan
Sorot mata tertuju pada sebuah makam
Cungkup besar ditengah kerumunan pekuburan
Sang sunan dengan ketenangan abadi bersemayam
Menerima para peziarah dari dalam dengan senyuman
...
Serupa sajak di atas dalam pertalian tema “wali”, Titik Istiana melalui sajak “Aku Puisikan Namamu: Tuban Bumi Wali” menulis:
Aku puisikan namamu dalam prasasti hati bersama doa yang tak pernah purna. Kelahiranmu dari awal mula babat alas papringan adalah sejarah indah tak bertepi. Hingga terbitlah kadipaten gemah ripah loh jinawi.
Di atas tanahmu, pusara para wali menjadi ziarah sakral yang mengingatkanku tentang kebesaran Ilahi. Hingga kini kau disebut Tuban Bumi Wali.
...
Sajak “Ahad Pagi Di Bumi Wali” karya Siti Umi Choiriyah menasbikan selalu saja tidak bisa dilepaskan orang Tuban, penyair Tuban, dan entah identitas apa entang Tuban selalu berbelitkelindan dengan ‘wali’ kita.
Adakah yang lebih indah
Saat pertemuan itu direncanakan Allah
Saat Dakwah menjalin ukhuwah
Bumi Wali karunia melimpah
Ahad pagi di bumi wali
Semarak barisan pendakwah
Di masjid yang suci menenangkan hati
Berbagi kata penuh hikmah
...
Serupa Umi, Endang Saptarina melalui “Cerita di Kota Tua” berkisah dalam pagutan sepi indahnya begini:
Bumi Wali terpahat kuat dalam ingatan
Di sela kepak sayap burung hong warisan tentara Khubilai Khan
Di antara gemerisik derai daun lontar
Bersembunyi di balik buah siwalan
Sambil mencecap segarnya air nira dan renyahnya ampo hitam
Kita nikmati di sepanjang Daendels yang membentang
Dari Anyer sampai Panarukan
Melaras kidung Ronggolawe meski sayup-sayup terdengar
Menggugah darah petarung agar tak menjadi pecundang
...
Serupa dunia wali, dunia religius, simetris pula bumi santri. Begitu entitas Tuban dalam kacamata para pengarang Tuban. Maka tidak heran jika penyair yang juga peneliti pikiran-pikiran Pahlawan Wanita Kartini, Alkhorida namanya, mengusung judul sajak “Kampung Santri”:
Di ujung selatan bumi wali
tak kurang lima puluh kilo meter bergeser dari pesisir utara
berdiri kokoh puluhan pesantren hingga berpuluh generasi
memasir para pecinta ilmu dan kalam Illahi
santri dan identitas pondok salafi
sistem sorogan yang sarat didikan kualitas individual
hafalan Alquran sebagai penjaga jiwa dan raga
muhadharah pengasah public speaking
hingga belajar berdikari dari usia dini
Senori, kawasan ulama dan santri
populer dengan ikon religi
sinerginya para pendiri dan penjaga negri
memperluas akses, potensi, dan otonomi
santri keren yang berisi teknologi
sebagai bekal penegak Tauhid ajaran para Kyai
pewaris para Nabi.
Ada penyair yang kekuatan bahasanya tak mampu aku menelisik lebih tukik ke dalam. Keterbatasanku dalam bahasa Jawa menyebabkan penyair Moch. Sunaryo kupahami sebagai aset Tuban dalam bersajak berbahasa Jawa. Teruskan Kang. Kau hebat. Ini bukti Kang Naryo lain daripada yang lain. Memang dia penyair ‘kelainan top’.
Pamuji 03
Oleh: Moch. Sunaryo
Manjing swasana sepi
Kang westono bang wetan semulak jingga
Jago kluruk sesautan ora miyak cahyaning bagaskara
Lamun
Sinawang saka netramu
Ana rasa kang kebak pitakon
Ana rasa wuyung kang tansah ngrembuyung
Puji syukur mring Gusti
Wontén puji kang sinélir malih
Lamun sira manédha marang Gusti
Wacanén den alon
Manahira den mandhép sawiji
Lan den ngati-atié
Mujiya den éning
Ya Allah
Ngilmu agama wajib diarah
Diasah ngunjara amarah
Aja sok seneng mitnah
Padha kuliknano maca kalimah toyibah
Marang Gusti Kang Maha Murah
Epilog
Kurasi yang baik adalah kurasi yang teliti. Kurasi yang teliti adalah kurasi yang mampu mendedah karya secara detail satu per satu. Maka, modal dasar sang kurator adalah ketelitian, kecermatan, dan kedalaman analisis.
Tampaknya kalimat terakhir dari paragraf di atas saya tak sanggup melakukannya. Jumlah puisi teman-teman dalam antologi ini lumayan banyak. Saya tak sanggup menelusuri saban diksi dengan penuh hikmat. Tetapi setidaknya, apa yang saya paparkan di atas mewakili arus besar pikiran para penyair yang berjumlah dua puluh tujuh orang itu.
Ya memang. Penyair Tuban bukan sembarang penyair. Mereka sanggup menyajikan data kepada kita semua tentang sejarah, masa lalu, masa kini, dan bahkan masa mendatang. Saya sebagai akademisi dalam sisi tertentu membuka celah ruang kurasi ini sebagai pintu masuk peneitian tentang Tuban dari perspektif puisi-puisi karya penulis yang lahir, hidup, tumbuh, dan mungkin kelak berakhir usia di kota tua Tuban yang penuh sejarah.
Akhirnya benarlah tesis yang menyebutkan bahwa “hidup adalah pilihan: mengalah, menerima, atau melawan sebagaimana yang saya kutip secara bebas dari puisi berjudul “Mimpi Aneh” karya Tri Mariani sebagai judul kurasi ini. Setidaknya, dari pembacaan puisi-puisi penyair Tuban yang secara fitrah berdarah melawan dan sisi lain pecinta wali, kita penulis Tuban telah memilih jalan hidup berpikir merdeka: “sekali hidup mengalahlah, menerimalah, karena mengalah dan menerima adalah menang sebelum melawan.” Tenane. Hehehe. []
[Cak Sariban pekerja kreatif, akademisi pengajar kesusastraan pada Program Pascasarjana Unisda Lamongan, tinggal di Tuban]
Label:
Buku
00.05
Membaca empat puluh lima puisi Mas Naryo mengingatkan betapa kita tersentak oleh waktu. Setidaknya Mas Naryo melalui puisi-puisinya mendedah pikir rasa kita terhadap kesadaran suasana, saat, di mana kita berada. Saya sebagai pembaca merasa diingatkan oleh penyair: banyak waktu indah terabaikan oleh tiadanya kesadaran kita sendiri.
Inilah talenta Mas Naryo yang saya rasa jika terus diasah dalam kerja kreativitas akan suatu saat nanti dia menjadi penyair kebanggaan Tuban, Indonesia. Saya menyebutnya dia sebagai "penyair suasana". Jika pun mau dipadankan dengan kepenyairan nasional, karya-karya Mas Naryo yang lebih banyak memotret kesadaran suasana atau waktu tadi mirip kerja kreatifnya dedengkot penyair kita Sapardi Djoko Damono yang fenomenal melalui Harmonium-nya itu.
Waktu yang disadari, dirasakan, digauli, disetubuhi, dinikmati hingga ekstase katarsis itu dapat kita lihat melalui puisi awal dan diyakini oleh penyair sebagai judul antologi yang pas: “Megatruh”. Selembar daun waru kian mongering/ketika selarik bujuk rayu sore mencerai petang/gurat merah membias cahaya pudar/rapuh menantang kedigdayaan malam/disaat merah mentari gelisah untuk berlalu/tak sabar menunggu dekap dalam bimbang//.
Sketsa suasana natural yang lebih mengedepankan seting pedesaan hingga penyair menemukan diksi daun waru, sore mencerai petang, merah membias cahaya pudar, rapuh menantang kedigdayaan malam, mentari gelisah, sebagai bukti peyair adalah pemotret waktu yang ulung. Kita dibawa keeksotikan senja, lukisan laksana tekstrur langit merah arah barat, misteri malam, dan imaji indah lain atas diksi Mas Naryo ini. Jika pembaca memiliki amunisi imaji setara dengan sang penyair, puisi-puisi Mas Naryo akan ber-reinkarnasi menjadi sederet puluhan lukisan yag dipajang di ruang pameran besar: yakni kepala sang imaji.
Catatan kedua, Mas Naryo sungguh penyair yang berpotensi menjadi penulis naratif yang baik. Imaji dalam larik-larik puisi yang sama kita temukan: Seorang lelaki berdiri dengan kaki sarat daki keletihan/ tanpa selembar alas menatap langit berona pelangi/ raganya terdiam dalam dingin di kaki senja/ mengurai bait kidung podang di ranting cemara/ di hamparan lautan perdu perburuan tanpa jeda//.
Sungguh deskriptif naratif ini juga kita jumpai pada bait puisi lain. Misalnya pada puisi lain dengan bait berikut:
Wahai perempuan di awal malam,
Apa yang kau ribangkan?
Bukankah mantera suci telah kau genggam?
Untuk apa kau tanak asmara Keillahian
Bila bilur ruhmu tersampir keraguan
Dialogial yang ditokohkan menjelma sosok kedua dalam bayang komunikasi penyair dengan orang lain,--the other--. Lebih menjauh lagi dalam komunikasi kritis kita lihat penyair sebagai tokoh yang mempertanyakan tokoh lain terhadap eksistensi diri, ketuhanan, ataukah esensi lain dalam hidup ini. Yang jelas kita sama-sama tahu bahwa penyair menyandarkan sebuah pertanyaaan kritis sebuah hakikat.
Catatan ketiga, Mas Naryo adalah penyair yang konsisten. Dia menjaga rima. Memilih diksi cukup ketat dengan syarat muatan makna. Yang lebih menarik dan tidak dijaga keruntutan imajinasinya oleh penyair lain dan ini dipertahankan Mas Naryo adalah bagaimana dia menata pikir rasanya kesan yang dirasakan awal kembali dirajut dalam kesan rasa akhir. Ini tentu sangat memudahkan imaji pembaca untuk masuk pada dunia penyair. Lihatlah misalnya kutipan pada puisi “Megatruh” bait awal dan bait akhir berikut:
Selembar daun waru kian mengering
ketika selarik bujuk rayu sore mencerai petang
gurat merah membias cahaya pudar
rapuh menantang kedigdayaan malam
....
Sang pejantan pun tersenyum
menatap daun waru kering yang mulai luruh
terhempas di tanah gersang
....
Jalan pikir imaji yang sama yakni mempertahankan imaji awal dan akhir dalam sebuat tautan bait juga kita temukan pada puisi berikut:
Jejak Katuridan
Kesatria muda mengurai letih pada senyap malam
Bebasan katepang ngrangsang gunung
Sang pemimpi tercampak dari peraduan
Mengurai lakon di selembar benang
....
Kesatria muda merentang pelukan
Mengeja kata terindah pada paruh malam
Menjejak langkah penuh harap pada senyum rembulan
Mengelantung dilangit biru yang tak pernah kelam//
....
Akhirnya, setinggi hamba melompat imaji jatuhnya pada Tuhan pula. Mas Naryo menyebutnya dengan diksi yang nyaman bagi dirinya: yakni Gusti. Lihat kutipan puisi "Secawan Ribang Tentangmu" dengan bait berikut:
...
Adikku,
tahukah kau akan hakekat rasa
yang dipahat Gusti pada selapis langit
di malam-malam kelam bersama mimpi
tentang keagungan cinta dari Illahi
yang menyelimuti kisah lara pada persimpangan
...
Gusti,
aku ingin berbaring di pangkuanmu
sambil meronce tasbih kesakralan
seraya menggumam ayat kesucian
yang mampu menepis bilur kerinduan
tentang kecintaan yang tak tersampaikan
pada siang maupun malam
Nada yang sama kita jumpa pada puisi "Lara pada Dinding Kepalsuan" yang urai bait tentang Gusti itu asyik masyuk: Gusti ijinkan aku mengurai senyapnya malam ini/ menjalin rumpun gelagah dan buluh, tuk jadi gelaran nan elok/ songsong wangi mawar di pagi buta/ teriring kicau gereja penuh damai//.
Ya, damai itu --ataukan indah itu-- ada hanya pada masa, waktu, tempat, suasana dimana simbol-simbol ritual ibadah diparafrasekan Mas Naryo melalui indah perempuan dalam peribadatan. Mari kita rasakan sajak "Selembar Rukuh di Betis Petang" dengan bait penuh pesona ke-Ilahian berikut:
Angin demikian lembut menarikan ujung jilbab
Perempuan muda dibekap sunyi di betis senja
Sendiri dalam kesenyapan tanpa rasa
Menarikan jiwa kelana tak bertepi
Menunggu sapaan syair Illahi di awal petang
Kelopak bunga rambutan tersenyum
Melepas seluet mentari meniti peraduan
Sang perempuan tanpa hasrat dalam diam
Terlilit renungan panjang sebuah perjalanan
Wahai perempuan di awal malam,
Apa yang kau ribangkan?
Bukankah mantera suci telah kau genggam?
Untuk apa kau tanak asmara Keillahian
Bila bilur ruhmu tersampir keraguan
Selembar kain rukuh, terurai bersama lirikan rembulan
Menutup jendela petang bertabur rona gemintang
Perempuan muda melangkah di persimpangan
Menggenggam ayat suci kenabian
Yang dibaiat alam kelanggengan
Beranda surau tua pun berbilas warna keriangan
Menunggu ruh Illahi bertandang
Membasuh lara jiwa-jiwa yang gersang
Pada malam-malam panjang
Bernoktah pasrah pada asmara Sang Khaliq
Jemari lentik perempuan pun bergetar
Menarikan ronce tasbih keimanan
Bibir tipisnya merona menghembus nafas harmoni
Burung malam pun terdiam dalam senyap
Mengikuti rapal ayat suci dari kitab lawas
Yang dititah alam kelanggengan
Akhirnya apa yang kita rasa pada puncaknya Mas Naryo dalam puisi "Kuhandel di Bilik Kelambu" bilang begini:
Aku kalah, Gusti
Aku pasrah, Selepas injin-MU
Aku penuhi undangan-Mu
Aku terima pinang-Mu
Sambutlah, Sambutlah
Aku ingin menangis
Dengan hati yang bernyanyi
Di pangkuan-MU
Tak ada kebahagiaan yang sejati kecuali berasa cinta pada sang kekasih dari segala mahakekasih. Ke mana dan di mana dalam rasa bersama Gusti. Kuyakin Mas Naryo akan sampai ke sana dengan kerendahan, kepasrahan, ketidakmengertian, penerimaan, dan entah ndlosor sebagai hamba melebihi eksistensi sampah agar Gusti welas memberi rasa itu. Oh indahnya. Aku ikut Mas Naryo. Hehehe.
*Cak Sariban: Kritikus Sastra Kab. Tuban
Hidup Adalah Kesadaran Waktu: Catatan Imaji Buku Megatruh di Awal Senja
Written By Kang Naryo on Sabtu, 12 Oktober 2019 | 00.05
Oleh:
Cak Sariban*
Membaca empat puluh lima puisi Mas Naryo mengingatkan betapa kita tersentak oleh waktu. Setidaknya Mas Naryo melalui puisi-puisinya mendedah pikir rasa kita terhadap kesadaran suasana, saat, di mana kita berada. Saya sebagai pembaca merasa diingatkan oleh penyair: banyak waktu indah terabaikan oleh tiadanya kesadaran kita sendiri.
Inilah talenta Mas Naryo yang saya rasa jika terus diasah dalam kerja kreativitas akan suatu saat nanti dia menjadi penyair kebanggaan Tuban, Indonesia. Saya menyebutnya dia sebagai "penyair suasana". Jika pun mau dipadankan dengan kepenyairan nasional, karya-karya Mas Naryo yang lebih banyak memotret kesadaran suasana atau waktu tadi mirip kerja kreatifnya dedengkot penyair kita Sapardi Djoko Damono yang fenomenal melalui Harmonium-nya itu.
Waktu yang disadari, dirasakan, digauli, disetubuhi, dinikmati hingga ekstase katarsis itu dapat kita lihat melalui puisi awal dan diyakini oleh penyair sebagai judul antologi yang pas: “Megatruh”. Selembar daun waru kian mongering/ketika selarik bujuk rayu sore mencerai petang/gurat merah membias cahaya pudar/rapuh menantang kedigdayaan malam/disaat merah mentari gelisah untuk berlalu/tak sabar menunggu dekap dalam bimbang//.
Sketsa suasana natural yang lebih mengedepankan seting pedesaan hingga penyair menemukan diksi daun waru, sore mencerai petang, merah membias cahaya pudar, rapuh menantang kedigdayaan malam, mentari gelisah, sebagai bukti peyair adalah pemotret waktu yang ulung. Kita dibawa keeksotikan senja, lukisan laksana tekstrur langit merah arah barat, misteri malam, dan imaji indah lain atas diksi Mas Naryo ini. Jika pembaca memiliki amunisi imaji setara dengan sang penyair, puisi-puisi Mas Naryo akan ber-reinkarnasi menjadi sederet puluhan lukisan yag dipajang di ruang pameran besar: yakni kepala sang imaji.
Catatan kedua, Mas Naryo sungguh penyair yang berpotensi menjadi penulis naratif yang baik. Imaji dalam larik-larik puisi yang sama kita temukan: Seorang lelaki berdiri dengan kaki sarat daki keletihan/ tanpa selembar alas menatap langit berona pelangi/ raganya terdiam dalam dingin di kaki senja/ mengurai bait kidung podang di ranting cemara/ di hamparan lautan perdu perburuan tanpa jeda//.
Sungguh deskriptif naratif ini juga kita jumpai pada bait puisi lain. Misalnya pada puisi lain dengan bait berikut:
Wahai perempuan di awal malam,
Apa yang kau ribangkan?
Bukankah mantera suci telah kau genggam?
Untuk apa kau tanak asmara Keillahian
Bila bilur ruhmu tersampir keraguan
Dialogial yang ditokohkan menjelma sosok kedua dalam bayang komunikasi penyair dengan orang lain,--the other--. Lebih menjauh lagi dalam komunikasi kritis kita lihat penyair sebagai tokoh yang mempertanyakan tokoh lain terhadap eksistensi diri, ketuhanan, ataukah esensi lain dalam hidup ini. Yang jelas kita sama-sama tahu bahwa penyair menyandarkan sebuah pertanyaaan kritis sebuah hakikat.
Catatan ketiga, Mas Naryo adalah penyair yang konsisten. Dia menjaga rima. Memilih diksi cukup ketat dengan syarat muatan makna. Yang lebih menarik dan tidak dijaga keruntutan imajinasinya oleh penyair lain dan ini dipertahankan Mas Naryo adalah bagaimana dia menata pikir rasanya kesan yang dirasakan awal kembali dirajut dalam kesan rasa akhir. Ini tentu sangat memudahkan imaji pembaca untuk masuk pada dunia penyair. Lihatlah misalnya kutipan pada puisi “Megatruh” bait awal dan bait akhir berikut:
Selembar daun waru kian mengering
ketika selarik bujuk rayu sore mencerai petang
gurat merah membias cahaya pudar
rapuh menantang kedigdayaan malam
....
Sang pejantan pun tersenyum
menatap daun waru kering yang mulai luruh
terhempas di tanah gersang
....
Jalan pikir imaji yang sama yakni mempertahankan imaji awal dan akhir dalam sebuat tautan bait juga kita temukan pada puisi berikut:
Jejak Katuridan
Kesatria muda mengurai letih pada senyap malam
Bebasan katepang ngrangsang gunung
Sang pemimpi tercampak dari peraduan
Mengurai lakon di selembar benang
....
Kesatria muda merentang pelukan
Mengeja kata terindah pada paruh malam
Menjejak langkah penuh harap pada senyum rembulan
Mengelantung dilangit biru yang tak pernah kelam//
....
Akhirnya, setinggi hamba melompat imaji jatuhnya pada Tuhan pula. Mas Naryo menyebutnya dengan diksi yang nyaman bagi dirinya: yakni Gusti. Lihat kutipan puisi "Secawan Ribang Tentangmu" dengan bait berikut:
...
Adikku,
tahukah kau akan hakekat rasa
yang dipahat Gusti pada selapis langit
di malam-malam kelam bersama mimpi
tentang keagungan cinta dari Illahi
yang menyelimuti kisah lara pada persimpangan
...
Gusti,
aku ingin berbaring di pangkuanmu
sambil meronce tasbih kesakralan
seraya menggumam ayat kesucian
yang mampu menepis bilur kerinduan
tentang kecintaan yang tak tersampaikan
pada siang maupun malam
Nada yang sama kita jumpa pada puisi "Lara pada Dinding Kepalsuan" yang urai bait tentang Gusti itu asyik masyuk: Gusti ijinkan aku mengurai senyapnya malam ini/ menjalin rumpun gelagah dan buluh, tuk jadi gelaran nan elok/ songsong wangi mawar di pagi buta/ teriring kicau gereja penuh damai//.
Ya, damai itu --ataukan indah itu-- ada hanya pada masa, waktu, tempat, suasana dimana simbol-simbol ritual ibadah diparafrasekan Mas Naryo melalui indah perempuan dalam peribadatan. Mari kita rasakan sajak "Selembar Rukuh di Betis Petang" dengan bait penuh pesona ke-Ilahian berikut:
Angin demikian lembut menarikan ujung jilbab
Perempuan muda dibekap sunyi di betis senja
Sendiri dalam kesenyapan tanpa rasa
Menarikan jiwa kelana tak bertepi
Menunggu sapaan syair Illahi di awal petang
Kelopak bunga rambutan tersenyum
Melepas seluet mentari meniti peraduan
Sang perempuan tanpa hasrat dalam diam
Terlilit renungan panjang sebuah perjalanan
Wahai perempuan di awal malam,
Apa yang kau ribangkan?
Bukankah mantera suci telah kau genggam?
Untuk apa kau tanak asmara Keillahian
Bila bilur ruhmu tersampir keraguan
Selembar kain rukuh, terurai bersama lirikan rembulan
Menutup jendela petang bertabur rona gemintang
Perempuan muda melangkah di persimpangan
Menggenggam ayat suci kenabian
Yang dibaiat alam kelanggengan
Beranda surau tua pun berbilas warna keriangan
Menunggu ruh Illahi bertandang
Membasuh lara jiwa-jiwa yang gersang
Pada malam-malam panjang
Bernoktah pasrah pada asmara Sang Khaliq
Jemari lentik perempuan pun bergetar
Menarikan ronce tasbih keimanan
Bibir tipisnya merona menghembus nafas harmoni
Burung malam pun terdiam dalam senyap
Mengikuti rapal ayat suci dari kitab lawas
Yang dititah alam kelanggengan
Akhirnya apa yang kita rasa pada puncaknya Mas Naryo dalam puisi "Kuhandel di Bilik Kelambu" bilang begini:
Aku kalah, Gusti
Aku pasrah, Selepas injin-MU
Aku penuhi undangan-Mu
Aku terima pinang-Mu
Sambutlah, Sambutlah
Aku ingin menangis
Dengan hati yang bernyanyi
Di pangkuan-MU
Tak ada kebahagiaan yang sejati kecuali berasa cinta pada sang kekasih dari segala mahakekasih. Ke mana dan di mana dalam rasa bersama Gusti. Kuyakin Mas Naryo akan sampai ke sana dengan kerendahan, kepasrahan, ketidakmengertian, penerimaan, dan entah ndlosor sebagai hamba melebihi eksistensi sampah agar Gusti welas memberi rasa itu. Oh indahnya. Aku ikut Mas Naryo. Hehehe.
*Cak Sariban: Kritikus Sastra Kab. Tuban
Label:
Buku
06.37
Pendahuluan
Manusia Jawa dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer
Written By Kang Naryo on Senin, 08 April 2013 | 06.37
Oleh : Darmawanto
Pendahuluan
Gambaran tentang
kebudayaan suatu masyarakat tidak hanya dapat diperoleh melalui
tulisan-tulisan ilmiah saja. Demikian juga, gambaran itu tidak harus
diperoleh dengan terjun masuk ke dalam masyarakat yang bersangkutan.
Gambaran itu dapat diperoleh dengan cara menggali karya-karya fiksi atau
non-ilmiah seperti buku-buku sastra atau novel-novel. Bahkan, dari
tulisan-tulisan fiksi itu, banyak sekali terungkap pandangan-pandangan
dari suatu kebudayaan tertentu yang hidup dalam suatu masyarakat pada
masa-masa tertentu. Hal ini dapat dimengerti mengingat bahwa karya-karya
fiksi adalah suatu produk kehidupan yang banyak mengandung nilai-nilai
sosial, politis, etika, religi, filosofis, dan sebagainya, yang bertolak
dari pengungkapan kembali suatu fenomena kehidupan (Sardjono, 1992:
10). Dapat dikatakan pula bahwa karya fiksi adalah suatu potret realitas
yang terwujud melalui bahasa.
Dalam tulisan
ini, penulis mencoba menggali gagasan dan gambaran tentang manusia Jawa
yang terdapat dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer. Metode pendekatan
yang dilakukan penulis adalah melihat fenomena-fenomena yang langsung
tampak dalam tetralogi tersebut, yang mengatakan tentang segala hal yang
berkaitan dengan gambaran manusia Jawa.
Novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer merupakan sebuah novel sejarah. Tetralogi ini terdiri dari empat jilid yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Bumi Manusia melingkupi masa kejadian tahun 1898 sampai 1918, masa periode Kebangkitan Nasional, masa yang hampir tak pernah dijamah oleh sastra Indonesia, masa awal masuknya pengaruh pemikiran rasio, awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga berarti awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis. Anak Semua Bangsa berkisah tentang pengenalan si tokoh pada lingkungannya sendiri dan dunia, sejauh pikirannya dapat menjangkaunya. Jejak Langkah berkisah tentang kelahiran organisasi-organisasi modern Pribumi pertama-tama. Dan Rumah Kaca berkisah tentang usaha Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda dalam menjadikan Hindia sebagai rumah kaca, di mana setiap gerak-gerik penduduk di dalamnya dapat mereka lihat dengan jelas, dan dengan hak exorbitant dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap para penghuni dalam rumah itu.
Manusia-manusia Jawa dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer
Minke
Minke adalah tokoh utama dalam tetralogi ini. Minke adalah seorang pelajar Indonesia pada sekolah menengah Belanda (H.B.S.) di Surabaya. Pengalaman intelektual di lingkungan asing ini, membebaskan dirinya dari belenggu latar belakang Jawa keturunan bangsawan. Minke adalah keturunan satria Jawa, masih memiliki darah raja-raja Jawa; ayahandanya adalah seorang bupati (Ananta Toer, 2001a: 134). Sementara dengan bernafsu menyerap gagasan-gagasan Eropa yang maju, ia juga mengalami bahwa ia adalah seorang warga negara kelas dua di negeri kelahirannya sendiri. Ini mendorongnya untuk menonjol dalam penguasaan bahasa Belanda dan munjukkannya dengan menulis untuk sebuah koran berbahasa Belanda. Minke memiliki tekad untuk menjadi manusia bebas. Tekad inilah yang menjiwai seluruh hidup dan perjuangannya; bahkan ia sangat mengagungkan semboyan Revolusi Perancis, liberte, egalite, fraternite. Menjadi manusia bebas berarti tidak mau tunduk di bawah penguasa kolonial.
Sejak awal, Minke sudah harus berurusan dengan pengadilan putih (Pengadilan di mana para pejabatnya adalah orang-orang Eropa dan di dalamnya berlaku hukum Eropa. Tentu saja orang Eropa memiliki derajat dan hak serta prioritas yang lebih tinggi dibandingkan orang pribumi), yaitu dalam kasus Nyai Ontosoroh dan Annelies (Nyai Ontosoroh adalah seorang gundik Belanda, dan Annelies adalah anak Nyai Ontosoroh dari Herman Mellema, seorang Belanda totok. Annelies kemudian menjadi istri Minke. Annelies akhirnya meninggal di Nederland setelah diambil paksa oleh keturunan sah ayahnya setelah Herman Mellema tewas). Dalam kasus ini, Minke telah mengerahkan segala upaya, baik lewat pengadilan maupun tulisan-tulisannya. Meskipun mendapat simpati dari masyarakat, segala upaya Minke dan kawan-kawannya gagal. Mereka kalah di hadapan pengadilan putih.
Dalam perjalanan hidupnya, ia berhadapan dengan kenyataan eksploitasi kolonial dan ketidakadilan yang dilakukan terhadap massa petani yang menderita. Berang terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, ia menulis serangkaian karangan untuk surat kabarnya. Lewat ulisan itu, ia membela nasib Trunodongso (Ananta Toer, 2001b: 174-194). Namun, tulisannya itu tidak diterima oleh redakturnya. Kemudian ia menyadari bahwa surat kabar itu adalah milik pengusaha perkebunan gula yang sangat berkuasa, dan bahwa selama ini ia telah bekerja untuk salah satu alat eksploitasi kolonial. Perjuangannya tidak berhenti sampai di sini. Kemudian ia mendirikan surat kabar sendiri, yaitu harian “Medan” yang berusaha menampung dan membela semua kasus penindasan atau ketidakadilan yang diadukan oleh orang-orang pribumi. Perjuangan ini mendekatkan Minke pada realitas penderitaan bangsanya.
Perjuangan Minke tidak hanya lewat tulisan. Dia juga berjuang lewat organisasi modern yang didirikannya. Pembentukan organisasi ini sangat penting karena satu organisasi modern di Hindia sama harganya dengan satu orang Eropa di hadapan hukum. Pertama kali, Minke mendirikan Serikat Priyayi yang beranggotakan para priyayi, yang pasti termasuk golongan terpelajar. Organisasi ini kurang berhasil karena rupanya tidak memiliki kepedulian sama sekali tentang keadaan bangsa Hindia. Kemudian Minke mendirikan Serikat Dagang Islam. Serikat ini bisa berjalan dan berkembang dengan baik karena beranggotakan kelompok mayoritas dari masyarakat pribumi, yaitu para pedagang dan kaum Islam. Dalam perkembangannya, pemerintah kolonial berusaha menggoncang dan memecah belah SDI. Minke kemudian dibuang ke Ambon oleh pemerintah kolonial dengan tuduhan yang tidak benar. Setelah bebas dari pembuangan, Minke menemukan bahwa segala miliknya tidak ada lagi. Dan akhirnya, ia meninggal karena sakit, tanpa diketahui oleh seorang pun kecuali
seorang pengikutnya yang masih setia.
Nyai Ontosoroh
Nyai adalah perempuan yang hidup sebagai selir/wanita simpanan lelaki nonpribumi/ Eropa. Pada masa itu, seorang Nyai dipandang sebagai manusia yang bermartabat dan bermoral rendah, yang hanya mempunyai kewajiban memuaskan nafsu tuannya tanpa pernah diakui pernikahannya secara sah (Ananta Toer, 2001a: 50).
Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai seorang sosok yang sangat berbeda dengan sosok seorang nyai pada umumnya. Nyai Ontosoroh ditampilkan sebagai pribadi yang kuat, tidak menyerah pada nasib. Ini terungkap melalui tekadnya, “Akan kubuktikan pada mereka, apa pun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus lebih berharga daripada mereka, sekalipun hanya sebagai nyai” (Ananta Toer, 2001a: 91) . Ia adalah seorang perempuan pribumi yang kuat, terpelajar, walaupun secara otodidak, dan berjiwa modern. Kemauannya dan usahanya untuk belajar dan tekadnya untuk mandiri menjadikannya sosok yang begitu mempesona bagi ukuran wanita pribumi pada masa itu.
Nyai Ontosoroh juga digambarkan sebagai sosok yang gigih memperjuangkan hakhaknya. Bahkan, ketika tak mungkin lagi menang dalam pengadilan putih ketika ia harus berhadapan dengan Ir. Maurits Mellema, ia berkata, “Memang kita tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Hukum dan dia, tapi kita masih punya mulut untuk bicara. Dengan mulut itu saja kita akan hadapi dia” (Ananta Toer, 2001b: 360).
Ibunda Minke
Ibunda Minke adalah gambaran sosok wanita Jawa priyayi. Dia masih menjunjung tinggi adat, tradisi, dan kebudayaan Jawa. Dia tetap berusaha memelihara nilai-nilai Jawa dalam menghadapi nilai-nilai yang ditawarkan oleh para penguasa kolonial. Dia tak hentihentinya menasihati Minke supaya ingat jati dirinya sebagai seorang Jawa, tetapi ia juga memberi kebebasan sepenuh-penuhnya pada Minke untuk memilih dan menentukan arah hidupnya sendiri, walaupun ia sebenarnya menginginkan Minke menjadi seorang bupati (Ananta Toer, 2001a: 137-138, 142).
Ibunda Minke dapat dikatakan sebagai sosok ideal bagi wanita Jawa. Hidupnya diabdikan untuk kebahagiaan suami dan anak-anaknya.
Ayahanda Minke
Ayahanda Minke adalah seorang laki-laki Jawa dari kalangan priyayi. Ia masih keturunan raja-raja Jawa. Semula, ia adalah seorang mantri pengairan, kemudian, ia diangkat menjadi bupati Bojonegoro. Selanjutnya ia dipindah ke Blora. Sebagai seorang Jawa tulen, dan lebih-lebih lagi sebagai seorang bupati yang hidup pada masa itu, tentu saja ayahanda Minke ini tidak lepas dari sikap feodalistik. Sebagai seorang bupati, seperti halnya dengan bupati- bupati lain pada masa itu, ia juga memimpikan karunia gelar Pangeran, suatu gelar yang sangat jarang dimiliki oleh bupati di seluruh Jawa (Ananta Toer, 2001c: 342-343).
Ia sulit untuk mengerti dan memahami pikiran dan tingkah laku, angan-angan dan sepak terjang Minke, bahkan ia menentang segala kegiatan Minke yang berkaitan dengan perjuangan Minke menghadapi pemerintah kolonial melalui tulisan maupun organisasi. Namun akhirnya, ia memutuskan untuk berpihak pada Minke, bahkan menjadi pelindung Sjarikat di dalam kawasannya (Ananta Toer, 2001c: 540-541). Lebih lagi, ia telah mendirikan sebuah sekolah gadis yang cukup bagus di Blora (Ananta Toer, 2001d: 397).
Gadis Jepara, Siti Soendari, dan Surati
Ketiga gadis ini memiliki satu kesamaan, yaitu tidak mau menyerah begitu saja pada nasib. Dengan caranya masing-masing, ketiga gadis itu berusaha memperjuangkan citacitanya, walaupun kesudahan yang dialami ketiganya sangat berbeda.
Gadis Jepara adalah seorang putri bupati Jepara. Ia hidup dalam lingkungan di mana sistem feodalisme berlaku dengan ketat. Ia hanya mengalami kebebasannya pada masa kecil sampai menanti masa pingitan, di mana hidupnya kemudian hanya berkisar di dalam rumah. Meskipun dalam situasi demikian, ia tekun sekali belajar. Ia memiliki pemikiran yang bagus untuk perempuan bangsanya, dan ia menuangkannya lewat tulisan-tulisan dan surat-suratnya yang membuat kagum banyak orang, termasuk Minke. Oleh karena pemikirannya yang cukup tajam, pemerintah kolonial Hindia-Belanda berusaha membungkamnya dengan mendesak ayahnya supaya segera menikahkannya. Akhirnya dia menikah dengan bupati Rembang. Ia mati pada usia yang masih sangat muda.
Siti Soendari adalah seorang gadis dari Pemalang, putri dari seorang teman Minke pada saat masih bersekolah (Ananta Toer, 2001d: 306). Soendari tidak dididik dalam suasana dan lingkungan feodalistik. Ia mengatakan, “Sudah sejak kecil sahaya ditimang-timang oleh ayahanda untuk menjadi wanita bebas. Tak pernah ayahanda melarang apapun yang sahaya perbuat asalkan tidak membahayakan keselamatan dan kehormatan keluarga dan diri sendiri” (Ananta Toer, 2001d: 327). Ia adalah seorang nasionalis muda yang membenci kolonialisme. Ia berjuang bersama para nasionalis muda lainnya melalui tulisan-tulisannya dalam koran maupun melalui orasi-orasinya di depan publik. Pemerintah merasa bahwa gadis jelita itu punya keyakinan dan pendapat yang berlainan dari keinginan Gubermen. Oleh karena itu, Gubernur Jawa Tengah memberi isyarat pada asisten residen Pekalongan, agar ayah Soendari sudi mengendalikan putrinya dengan segera mengawinkannya. Prosedur ini telah dilaksanakan terhadap gadis Jepara dengan berhasil, tetapi Soendari tidak mau mengalami nasib yang sama dengan gadis Jepara. Ia menghindari rencana itu dengan melarikan diri.
Surati adalah putri Paiman, kakak Nyai Ontosoroh. Karena ambisi ayahnya, ia terpaksa harus menjadi gundik Tuan Besar Plikemboh. Namun, Surati tetap tidak ingin selama-lamanya menjadi nyai. Surati mempunyai tekad untuk ‘menyelesaikan sendiri kesudahannya’ (Ananta Toer, 2001b: 163). Akhirnya Surati menempuh jalan menulari dirinya sendiri dengan wabah cacar. Dia datang kepada Plikemboh dengan harapan mati segera. Akhirnya, Plikemboh yang mati tertulari cacar dari Surati, sedangkan Surati sendiri terselamatkan.
Sastrotomo dan Paiman
Dua tokoh ini mewakili manusia Jawa yang ambisius. Sastrotomo tidak puas dengan jabatannya sebagai jurutulis. Ia impikan jabatan yang lebih tinggi kendati jabatannya sudah cukup tinngi dan terhormat. Ia memimpikan jabatan sebagai jurubayar, kassier pemegang kas pabrik gula Tulangan, Sidoarjo. Demi jabatan itu, berbagai jalan ditempuhnya. Sanikem bercerita tentang sikap ayahnya itu, “Tindakannya yang menjilat dan merugikan temantemannya menjadikannya tersisih dari pergaulan. Ia terpencil di tengah lingkungannya sendiri. Tapi ia tidak peduli” (Ananta Toer, 2001a: 82). Pada akhirnya, ia tega menjual anaknya sendiri, Sanikem, kepada administratur pabrik gula, Tuan Herman Mellema, demi jabatan jurubayar yang diimpikannya.
Tidak jauh beda dengan Paiman. Ia menyerahkan Surati, anaknya kepada Tuan Besar Vlekkenbaaij (oleh masyarakat diplesetkan menjadi Plikemboh), administratur pabrik gula saat itu, sebagai ganti jabatan. Walaupun dikisahkan bahwa Paiman dijebak oleh Tuan Besar Plikemboh sehingga ia harus memilih antara membayar kembali uang yang hilang atau menyerahkan Surati, toh Paiman tetap saja menyimpan ambisi besar untuk mempertahankan jabatannya sebagai jurubayar, suatu jabatan yang sangat bergengsi dan dihormati banyak orang. Ia menyatakan:
Golongan Petani
Penjajahan selama tiga ratus tahun membuat kaum petani pada umumnya menjadi terpuruk dan tidak berdaya. Kekalahan terus-menerus yang mereka alami selama itu membuat mereka begitu takut dan tunduk pada penguasa kolonial. Penindasan yang mereka alami bukan hanya dari pemerintah kolonial, tetapi juga dari penguasa pribumi. Ketakutan kaum petani Jawa ini ditunjukkan melalui sebuah brosur dari Magda Peters yang mengatakan:
Situasi terpuruk ini membuat sebagian besar dari mereka kehilangan harapan dan kepercayaan akan diri sendiri. Mereka lebih suka bermimpi bahwa pada suatu hari nantipenguasa akan bermurah hati kepada mereka dan membebaskan mereka dari belenggu
penjajahan ini.
Golongan Terpelajar
Kaum terpelajar adalah mereka yang mendapat pengetahuan Eropa melalui sekolahsekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Mereka dididik untuk mengabdi kepada Gubermen. Akibatnya, sangat sedikit orang terpelajar yang mengenal bangsa dan kebutuhan bangsanya. Kebanyakan mereka hanya mengenal kebutuhan nafsu mereka sendiri. Mereka kurang peduli bahwa maju-mundurnya bangsa ini sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan.
Sikap jelek kaum terpelajar ini lebih nampak ketika Minke mendirikan Serikat Priyayi. Minke berpikir bahwa kaum terpelajarlah yang dapat memelopori suatu organisasi modern. Namun ternyata, mereka hanya sekedar memikirkan perut mereka sendiri. Mereka sudah terlanjur merasa mapan dengan kondisi mereka sehingga enggan untuk turut campur dalam urusan-urusan yang bisa membahayakan status mereka, meskipun itu demi bangsa mereka sendiri.
Tokoh Lain
Masih ada beberapa tokoh manusia Jawa lainnya yang menjadi pelaku dalam tetralogi Pramoedya. Namun, karena tokoh-tokoh itu hanya disebut sekilas dan kurang menunjukkan suatu gambaran tentang manusia Jawa, penulis hanya akan mengemukakan sekilas saja tentang mereka.
Wardi, Tjipto, Marko, Sandiman, Tomo, dll. Adalah para nasionalis muda yang berjuang melawan kolonialisme dengan caranya masing-masing, baik lewat tulisan maupun organisasi.
Istri Sastrotomo, yaitu ibu dari Sanikem, digambarkan sebagai perempuan yang terlalu tunduk pada suaminya. Ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk mempertahankan Sanikem yang akan diserahkan kepada Herman Mellema oleh suaminya. Sedangkan Djumilah, istri Paiman, cukup berani melawan suaminya, walaupun terancam perceraian. Meskipun hanya denngan suara dan kata-kata, ia berjuang untuk mempertahankan Surati. Namun usahanya sia-sia karena Surati memilih untuk memenuhi kehendak ayahnya.
Gambaran Manusia Jawa dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer
Manusia Jawa dan Sikap Feodalistik
Sikap feodalistik sangat meresapi berbagai segi dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pramoedya juga menampilkan sikap feodalistik manusia Jawa ini dalam novelnya. Apa itu feodalisme? Feodalisme adalah suatu mental attitude, sikap mental terhadap sesama dengan mengadakan sikap khusus karena adanya pembedaan dalam usia atau kedudukan (Hardjowirogo, 1984: 11).
Pramoedya (2001a: 133) melukiskan salah satu contoh feodalisme itu dalam buku pertama tetraloginya. Di dalamnya, dilukiskan tentang bagaimana seorang bupati memerintah kota kabupatennya sebagai seorang raja kecil, yang oleh rakyat biasa disebut Gusti Kanjeng. Untuk menghadap seorang bupati di kediamannya, seorang rakyat harus mencopot alas kakinya dan jalan berlutut.
Sikap feodalistik ini dilukiskan lebih tegas lagi ketika Ibunda Minke memberikan wejangan kepada Minke, “Itu tanda kau bukan Jawa lagi, tak mengindahkan siapa lebih tua, lebih berhak akan kehormatan, siapa lebih berkuasa ... Orang Jawa sujud berbakti pada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang Jawa harus berani mengalah” (Ananta Toer, 2001a: 141) .
Sikap feodalistik ditunjukkan pula dalam penggunaan tingkatan-tingkatan bahasa Jawa. Seorang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya menggunakan bahasa ngoko kepada orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya. Sebaliknya, orang yang lebih muda atau rendah kedudukannya menggunakan krama inggiol kepada yang lebih tua atau tinggi kedudukannya. Hal ini tampak jelas dalam seluruh tetralogi Pramoedya. Misalnyaantara Minke dan ayahanda atau ibundanya, antara Minke dengan kusir kereta, antara bupati dengan rakyatnya, dll.
Manusia Jawa dan Sikap Fatalistik
Ada pandangan umum bahwa di dalam hidupnya, orang Jawa biasanya bersikap fatalistik. Bagaimanapun baiknya manusia merancang hidupnya, kesudahannya Tuhanlah yang menentukan (Hardjowirogo, 1984: 26). Dalam tetraloginya, Pramoedya menunjukkan kebenaran pandangan itu, tetapi sekaligus juga menunjukkan bahwa tidak semua orang Jawa bersikap demikian. Ada juga orang Jawa yang berpandangan bahwa nasib manusia berada di tangan manusia sendiri. Takkan bisa tercapai sesuatu di dalam hidupnya bila ia tak berusaha sendiri untuk mencapainya.
Gambaran manusia Jawa dan sikap fatalistiknya digambarkan Pramoedya melalui tokoh ibunda Minke. Ibunda Minke melalui nasehat-nasehatnya kepada Minke dan melalui sikap hidupnya, menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang nrima, menerima nasib apa adanya sebagai suatu yang memang diperuntukkan Tuhan baginya. Dia merasa bersyukur atas nasib yang diterimanya (Ananta Toer, 2001c: 64-65).
Manusia Jawa yang tidak bersikap fatalistik cukup jelas digambarkan melalui tokoh Nyai Ontosoroh, Surati, gadis Jepara, Siti Soendari, dan Minke sendiri. Mereka dengan caranya masing-masing berusaha untuk meraih apa yang diharapkan, dan berusaha untuk melepaskan diri dari nasib yang kurang baik untuk meraih nasib yang lebih baik.
Manusia Jawa dan Wayang
Boleh dikatakan bahwa wayang adalah identitas utama manusia Jawa (Ananta Toer, 2001c: 33). Orang Jawa hampir tidak dapat melepaskan diri dari wayang. Wayang berkaitan dengan penafsiran makna kehidupan manusia, seperti yang disampaikan Pramoedya (2001d: 104) melalui tetraloginya, “Memang dibutuhkan waktu untuk mempelajari garis-garis pokok pemikiran dalam wayang. Mengerti wayang adalah mengerti sejarah pandangan hidup danpandangan dunia manusia Jawa. Menguasai pewayangan sebagai subjek berarti menguasai manusia Jawa”
Manusia Jawa juga gemar mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh wayang tertentu dan bercermin padanya untuk melakukan perbuatan dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam tetraloginya, Pramoedya juga memunculkan unsur ini. Lewat ucapan tokoh Minke pada bundanya, Pramoedya (2001c: 487) bertutur demikian,
Demikianlah tampak bahwa bagi orang Jawa, wayang dipakai sebagai penyamaan diri. Namun, fungsi wayang bukan hanya sekedar penyamaan belaka. Wayang lebih menjadi pemberi makna kehidupan. Banyak orang Jawa dalam memahami kehidupannya menganggap takdir atau nasibnya sebagai lakon yang dimainkan oleh dalang (Sardjono, 1992: 66). Dalam hal ini, yang dimaksud adalah Sang Dalang Tertinggi, yaitu Tuhan.
Manusia Jawa dan “Aja Dumeh”
Dumeh adalah suatu keadaan kejiwaan yang mendorong seseorang untuk bersikap serta berbuat tertentu selagi atau mumpung dia sedang berkuasa (Hardjowirogo, 1984: 52). Manusia Jawa dididik supaya jangan mengecewakan atau menyakiti hati orang lain karena pergantian ke arah yang baik. Untuk menjaga diri supaya tidak keweleh, tersanggah oleh perubahan keadaan, manusia Jawa harus melindungi diri terhadap akibat sikap dumeh.
Maka, dalam masyarakat Jawa timbullah ungkapan ‘aja dumeh’, yang bisa diartikan ‘jangan mentang-mentang’, jangan berpikir bahwa semua hal boleh dilakukan karena ia lebih unggul. Ungkapan ini dimaksudkan sebagai nasihat agar seseorang dalam bergaul dengan orang lain tidak melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati. Biasanya orang bersikap dumeh ketika mendapat kemujuran. Orang itu tidak ingat bahwa keadaan tidak pernah langgeng, selalu berubah.
Falsafah hidup manusia Jawa ini ditampilkan juga oleh Pramoedya dalam karyanya. Melalui nasihat-nasihat ibunda kepada Minke, Pramoedya (2001a: 141) bertutur, “Kau terlalu banyak bergaul dengan Belanda. Maka kau sekarang tak suka bergaul dengan sebangsamu, bahkan dengan saudara-saudaramu, dengan Ayahandamu pun. Surat-surat tak kau balas. Mungkin kau pun sudah tak suka padaku.” Lebih lanjut ia bertutur, “Bunda tak hukum kau. Kau sudah temukan jalanmu sendiri. Bunda takkan halangi, juga takkan panggil kembali. Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Haya jangan sakiti orangtuamu, dan orang-orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu” (Ananta Toer, 2001a: 142).
Namun dalam kenyataannya, manusia Jawa, khususnya mereka yang memiliki kedudukan atau jabatan tinggi, sangat jarang yang memegang falsafah ini. Tak mungkin orang memegang falsafah ini sekaligus memiliki ambisi untuk dihormati, yaitu dengan memimpikan jabatan atau gelar terhormat, seperti halnya Satrotomo, Paiman, maupun para bupati.
Manusia Jawa dan “Nrima ing Pandum”
Dalam diri manusia Jawa juga ditekankan sikap nrima ing pandum, yaitu sikap menerima apa yang oleh Tuhan dibagikan kepadanya. Setiap orang mempunyai pandumannya, bagiannya sendiri-sendiri sebagaimana ditentukan oleh Tuhan. Untuk itu ia harus mengucap syukur kepada Tuhan yang telah berkenan menyediakan nasib sebagaimana yang ditentukan baginya. Pramoedya (2001c: 65) menampilkan unsur ini melalui ucapan Ibunda kepada Minke, “Orang Jawa melakukan segala karena sekedar hanya menjalani. Perintah- perintah datang dari Tuhan, dari Dewa, dari Raja. Setelah menjalankan perintah orang merasa berbahagia menjadi dirinya sendiri sampai datang perintah lagi. Maka dia bersyukur, mengenal terimakasih”. Dan melalui ucapan Paiman, Pramoedya (2001b: 159) bertutur, “Semua Allahlah yang membagi-bagikan nasib dan rejeki. Dialah yang menentukan segala-galanya sebagaimana Ia kehendaki.” Ditambahkan pula lewat perkataan ayahanda Minke kepada Minke, “Hanya karena petunjuk Tuhan orang bisa jadi bupati. Kalu Tuhan telah menunjuk engkau, jadilah kau bupati. Tak bakal ada kekuatan padamu untuk menolak, karena itu pembangkangan” (Ananta Toer, 2001c: 343).
Demikianlah tampak bahwa manusia Jawa takkan menuntut lebih banyak karena memang hanya sekianlah ukuran keberhasilan yang teruntuk baginya. Memang, boleh dikatakan bahwa ini merupakan suatu sikap fatalistik, tetapi manusia Jawa tidak bisa berbuat lain. Dengan menginginkan lebih banyak, dia sebenarnya menuntut Tuhan supaya memberi perlakuan lebih baik. Padahal Tuhan sudah menentukan ukuran keberuntungan dalam hidup
yang teruntuk baginya.
Pandangan tentang Lelaki Jawa
Lelaki Jawa dari kalangan mana pun, tampaknya hampir semuanya menunjukkan ciri-ciri yang mirip dalam beberapa hal tertentu. Salah satunya seperti yang telah dikemukakan di atas, yaitu sikap feodalistiknya. Hal lain misalnya mengenai pandangan mereka tentang eksistensi seorang istri. Yang cukup kelihatan adalah ‘dominasi’ pria terhadap istrinya. Pramoedya menggambarkan hal ini melalui tokoh Sastrotomo, ayah Sanikem/Nyai Ontosoroh. Melalui ungkapan Sanikem, Pramoedya (2001a: 84) bertutur, “Ibuku tak punya hak bicara, seperti wanita Pribumi seumumnya. Semua ayah yang menentukan.” Melalui gadis Jepara, ia juga bertutur, “... tak ada satu bangsa di dunia bisa terhormat bila wanitanya ditindas oleh pria seperti pada bangsaku, dan bila kasih sayang hanya pada bayi saja... sedang si ibu kembali menjadi hamba dari suaminya” (Ananta Toer, 2001c: 81). Pramoedya (2001a: 224) juga menunjukkan sikap lelaki Jawa terhadap wanita, “... pria Pribumi belum terbiasa memperlakukan wanita dengan lemah-lembut dan sopan, ramah dan tulus.”
Ciri lain yang tampak pada lelaki Jawa yang tertuang dalam karya Pramoedya itu adalah kesukaan mereka untuk meniru, bahkan mengidentifikasikan diri pada seseorang yang dianggap tinggi dan pantas dihormati. Dikatakan oleh Pramoedya (2001c: 228), “... sekali seorang bupati melakukan sesuatu, bawahannya akan meniru. Sedang bupati hanya meniru Belanda residennya. Meniru atasan jadi pola kebajikan.”
Suatu gambaran tentang perilaku seksual lelaki Jawa berkedudukan juga ditampilkan oleh Pramoedya. Digambarkan bahwa adalah suatu hal yang lazim bagi lelaki Jawa yang memiliki kedudukan terhormat untuk beristri lebih dari satu. Pramoedya (2001a: 83) bertutur melalui Sanikem, “Semestinya, sebagaimana lazimnya, ayahku beristri dua atau tiga, apalagi ayah mempunyai tanah yang disewa pabrik dan tanah lain yang digarap oleh orang lain.” Ditambahkan bahwa memiliki ‘piaraan’ atau istri simpanan adalah suatu adat yang terpuji di kalangan pegawai Pribumi (Ananta Toer, 2001b: 83). Bahkan ditegaskan pula, “Mana ada Jawa, dan bupati pula, bukan buaya darat? (Ananta Toer, 2001a: 11).
Melalui wejangan Ibunda kepada Minke menjelang pernikahan Minke dengan Annelies, Pramoedya (2001a: 350-351) menuturkan syarat-syarat yang harus ada pada satria Jawa, yaitu wisma, wanita, turangga, kukila, dan curiga. Wisma (rumah) adalah tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan; tanpa wanita, satria menyalahi kodratnya sebagai lelaki. Tanpa turangga (kuda), tak jauh langkah seorang satria, dan pendek penglihatannya. Kukila (burung) lambang keindahan, kelangenan (hobby), segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan pribadi. Dan curiga (keris) lambang kewaspadaan, kesiapsiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya.
Pandangan tentang Perempuan Jawa
Menarik bahwa Pramoedya menampilkan lebih dari satu tokoh perempuan dalam karyanya. Tak kalah menarik bahwa perempuan ditempatkan pada kedudukan yang tidak setara dengan kaum lelaki, namun juga diberikan sifat-sifat atau ciri yang terhormat kepada mereka dengan sederet kebaikan, antara lain kesetiaan, kepatuhan, kesabaran.
Melalui tokoh Djumilah, istri Paiman, Pramoedya (2001b: 148) menggambarkan bagaimana perempuan Jawa menyikapi keadaannya,
Selanjutnya, mengenai pekerjaan seorang perempuan Jawa, Pramoedya menunjukkan adanya perbedaan antara kalangan ningrat/priyayi dengan kalangan kebanyakan/wong cilik. Pramoedya (2001c: 133) bertutur melalui ayahanda Minke, “Buat apa perempuan bekerja dan belajar kalau sudah jadi istri orang? Kurang berhargakah seorang suami maka istrinya ikut bersusah-payah? ... Hanya orang desa saja, orang tani, dua-duanya bekerja. Atau pedagangpedagang kecil itu.”
Perempuan Jawa, khususnya kalangan priyayi, selalu berusaha menempatkan kebahagiaan pada kehidupan perkawinannya. Istri golongan priyayi selalu berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan suaminya dengan pelbagai macam cara. Dan landasannya bukan hanya demi kepatuhan, kesetiaan dan pengabdian saja, melainkan juga demi mengikat agar suaminya tetap mencintainya.
Pramoedya (2001d: 302) juga menampilkan sebuah gambaran tentang perempuan Jawa yang ideal, utama, patut dicontoh, yaitu perempuan yang pandai bersolek dan bersopansantun, luwes dalam pergaulan, setiap saat sedia membantu dan menolong orang, tak undur terhadap kerja kasar atau halus, trampil di depan umum dan di rumah.
Kesimpulan
Dari hasil penggalian terhadap tetralogi Pramoedya Ananta Toer, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal mengenai gambaran manusia Jawa berdasarkan tetralogi tersebut. Manusia Jawa dalam masyarakat tidak bisa lepas dari sikap feodalistiknya. Hal ini telah berlangsung turun temurun sejak dahulu dan masih berlangsung hingga kini, misalnya dalam penggunaan bahasa Jawa yang memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan pembicara dan lawan bicaranya.
Sikap manusia Jawa yang juga cukup menonjol adalah sikap fatalistiknya, sikap nrima-nya. Falsafah nrima ing pandum cukup mengakar dalam diri manusia Jawa, khususnya wanita Jawa. Falsafah ini, mau tidak mau, mendorong pada sikap fatalistik, yaitu pasrah terhadap nasib. Namun, tidak semua manusia Jawa bersikap demikian. Banyak juga yang berpandangan bahwa nasib manusia ditentukan oleh manusia sendiri.
Nasehat yang baik yang dimiliki orang Jawa adalah ‘aja dumeh’. Suatu nasehat yang sungguh relevan untuk dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat demi terciptanya suatu keadaan yang damai. Selanjutnya, manusia Jawa tidak bisa dipisahkan dari wayang. Wayang menjadi suatu pemberi makna hidup bagi manusia Jawa.
Mengenai kedudukan lelaki dan perempuan, dalam masyarakat Jawa masih terdapat pembedaan. Wanita lebih dianggap sebagai subordinate yang hanya pantas dipandang sebelah mata saja. Meskipun demikian, keberadaannya dibutuhkan sebagai pelengkap “ketidaksempurnaan” kaum lelaki.
Bahan Bacaan
Ananta Toer, Pramoedya. 2001a. Bumi Manusia. Jakarta: Hasta Mitra.
________. 2001b. Anak Semua Bangsa. Jakarta: Hasta Mitra.
________. 2001c. Jejak Langkah. Jakarta: Hasta Mitra.
________. 2001d. Rumah Kaca. Jakarta: Hasta Mitra.
Hardjowirogo, Marbangun. 1984. Manusia Jawa. Jakarta: Inti Idayu Press.
Magnis-Suseno, Franz. 1985. Etika Jawa. Jakarta: Gramedia.
Mulder, Niels. 1985. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Sardjono, Maria A. 1992. Paham Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Novel tetralogi karya Pramoedya Ananta Toer merupakan sebuah novel sejarah. Tetralogi ini terdiri dari empat jilid yang berjudul Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca. Bumi Manusia melingkupi masa kejadian tahun 1898 sampai 1918, masa periode Kebangkitan Nasional, masa yang hampir tak pernah dijamah oleh sastra Indonesia, masa awal masuknya pengaruh pemikiran rasio, awal pertumbuhan organisasi-organisasi modern yang juga berarti awal kelahiran demokrasi pola Revolusi Perancis. Anak Semua Bangsa berkisah tentang pengenalan si tokoh pada lingkungannya sendiri dan dunia, sejauh pikirannya dapat menjangkaunya. Jejak Langkah berkisah tentang kelahiran organisasi-organisasi modern Pribumi pertama-tama. Dan Rumah Kaca berkisah tentang usaha Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda dalam menjadikan Hindia sebagai rumah kaca, di mana setiap gerak-gerik penduduk di dalamnya dapat mereka lihat dengan jelas, dan dengan hak exorbitant dapat berbuat sekehendak hatinya terhadap para penghuni dalam rumah itu.
Manusia-manusia Jawa dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer
Minke
Minke adalah tokoh utama dalam tetralogi ini. Minke adalah seorang pelajar Indonesia pada sekolah menengah Belanda (H.B.S.) di Surabaya. Pengalaman intelektual di lingkungan asing ini, membebaskan dirinya dari belenggu latar belakang Jawa keturunan bangsawan. Minke adalah keturunan satria Jawa, masih memiliki darah raja-raja Jawa; ayahandanya adalah seorang bupati (Ananta Toer, 2001a: 134). Sementara dengan bernafsu menyerap gagasan-gagasan Eropa yang maju, ia juga mengalami bahwa ia adalah seorang warga negara kelas dua di negeri kelahirannya sendiri. Ini mendorongnya untuk menonjol dalam penguasaan bahasa Belanda dan munjukkannya dengan menulis untuk sebuah koran berbahasa Belanda. Minke memiliki tekad untuk menjadi manusia bebas. Tekad inilah yang menjiwai seluruh hidup dan perjuangannya; bahkan ia sangat mengagungkan semboyan Revolusi Perancis, liberte, egalite, fraternite. Menjadi manusia bebas berarti tidak mau tunduk di bawah penguasa kolonial.
Sejak awal, Minke sudah harus berurusan dengan pengadilan putih (Pengadilan di mana para pejabatnya adalah orang-orang Eropa dan di dalamnya berlaku hukum Eropa. Tentu saja orang Eropa memiliki derajat dan hak serta prioritas yang lebih tinggi dibandingkan orang pribumi), yaitu dalam kasus Nyai Ontosoroh dan Annelies (Nyai Ontosoroh adalah seorang gundik Belanda, dan Annelies adalah anak Nyai Ontosoroh dari Herman Mellema, seorang Belanda totok. Annelies kemudian menjadi istri Minke. Annelies akhirnya meninggal di Nederland setelah diambil paksa oleh keturunan sah ayahnya setelah Herman Mellema tewas). Dalam kasus ini, Minke telah mengerahkan segala upaya, baik lewat pengadilan maupun tulisan-tulisannya. Meskipun mendapat simpati dari masyarakat, segala upaya Minke dan kawan-kawannya gagal. Mereka kalah di hadapan pengadilan putih.
Dalam perjalanan hidupnya, ia berhadapan dengan kenyataan eksploitasi kolonial dan ketidakadilan yang dilakukan terhadap massa petani yang menderita. Berang terhadap apa yang dilihat dan didengarnya, ia menulis serangkaian karangan untuk surat kabarnya. Lewat ulisan itu, ia membela nasib Trunodongso (Ananta Toer, 2001b: 174-194). Namun, tulisannya itu tidak diterima oleh redakturnya. Kemudian ia menyadari bahwa surat kabar itu adalah milik pengusaha perkebunan gula yang sangat berkuasa, dan bahwa selama ini ia telah bekerja untuk salah satu alat eksploitasi kolonial. Perjuangannya tidak berhenti sampai di sini. Kemudian ia mendirikan surat kabar sendiri, yaitu harian “Medan” yang berusaha menampung dan membela semua kasus penindasan atau ketidakadilan yang diadukan oleh orang-orang pribumi. Perjuangan ini mendekatkan Minke pada realitas penderitaan bangsanya.
Perjuangan Minke tidak hanya lewat tulisan. Dia juga berjuang lewat organisasi modern yang didirikannya. Pembentukan organisasi ini sangat penting karena satu organisasi modern di Hindia sama harganya dengan satu orang Eropa di hadapan hukum. Pertama kali, Minke mendirikan Serikat Priyayi yang beranggotakan para priyayi, yang pasti termasuk golongan terpelajar. Organisasi ini kurang berhasil karena rupanya tidak memiliki kepedulian sama sekali tentang keadaan bangsa Hindia. Kemudian Minke mendirikan Serikat Dagang Islam. Serikat ini bisa berjalan dan berkembang dengan baik karena beranggotakan kelompok mayoritas dari masyarakat pribumi, yaitu para pedagang dan kaum Islam. Dalam perkembangannya, pemerintah kolonial berusaha menggoncang dan memecah belah SDI. Minke kemudian dibuang ke Ambon oleh pemerintah kolonial dengan tuduhan yang tidak benar. Setelah bebas dari pembuangan, Minke menemukan bahwa segala miliknya tidak ada lagi. Dan akhirnya, ia meninggal karena sakit, tanpa diketahui oleh seorang pun kecuali
seorang pengikutnya yang masih setia.
Nyai Ontosoroh
Nyai adalah perempuan yang hidup sebagai selir/wanita simpanan lelaki nonpribumi/ Eropa. Pada masa itu, seorang Nyai dipandang sebagai manusia yang bermartabat dan bermoral rendah, yang hanya mempunyai kewajiban memuaskan nafsu tuannya tanpa pernah diakui pernikahannya secara sah (Ananta Toer, 2001a: 50).
Nyai Ontosoroh digambarkan sebagai seorang sosok yang sangat berbeda dengan sosok seorang nyai pada umumnya. Nyai Ontosoroh ditampilkan sebagai pribadi yang kuat, tidak menyerah pada nasib. Ini terungkap melalui tekadnya, “Akan kubuktikan pada mereka, apa pun yang telah diperbuat atas diriku, aku harus lebih berharga daripada mereka, sekalipun hanya sebagai nyai” (Ananta Toer, 2001a: 91) . Ia adalah seorang perempuan pribumi yang kuat, terpelajar, walaupun secara otodidak, dan berjiwa modern. Kemauannya dan usahanya untuk belajar dan tekadnya untuk mandiri menjadikannya sosok yang begitu mempesona bagi ukuran wanita pribumi pada masa itu.
Nyai Ontosoroh juga digambarkan sebagai sosok yang gigih memperjuangkan hakhaknya. Bahkan, ketika tak mungkin lagi menang dalam pengadilan putih ketika ia harus berhadapan dengan Ir. Maurits Mellema, ia berkata, “Memang kita tidak mempunyai kekuatan untuk melawan Hukum dan dia, tapi kita masih punya mulut untuk bicara. Dengan mulut itu saja kita akan hadapi dia” (Ananta Toer, 2001b: 360).
Ibunda Minke
Ibunda Minke adalah gambaran sosok wanita Jawa priyayi. Dia masih menjunjung tinggi adat, tradisi, dan kebudayaan Jawa. Dia tetap berusaha memelihara nilai-nilai Jawa dalam menghadapi nilai-nilai yang ditawarkan oleh para penguasa kolonial. Dia tak hentihentinya menasihati Minke supaya ingat jati dirinya sebagai seorang Jawa, tetapi ia juga memberi kebebasan sepenuh-penuhnya pada Minke untuk memilih dan menentukan arah hidupnya sendiri, walaupun ia sebenarnya menginginkan Minke menjadi seorang bupati (Ananta Toer, 2001a: 137-138, 142).
Ibunda Minke dapat dikatakan sebagai sosok ideal bagi wanita Jawa. Hidupnya diabdikan untuk kebahagiaan suami dan anak-anaknya.
Ayahanda Minke
Ayahanda Minke adalah seorang laki-laki Jawa dari kalangan priyayi. Ia masih keturunan raja-raja Jawa. Semula, ia adalah seorang mantri pengairan, kemudian, ia diangkat menjadi bupati Bojonegoro. Selanjutnya ia dipindah ke Blora. Sebagai seorang Jawa tulen, dan lebih-lebih lagi sebagai seorang bupati yang hidup pada masa itu, tentu saja ayahanda Minke ini tidak lepas dari sikap feodalistik. Sebagai seorang bupati, seperti halnya dengan bupati- bupati lain pada masa itu, ia juga memimpikan karunia gelar Pangeran, suatu gelar yang sangat jarang dimiliki oleh bupati di seluruh Jawa (Ananta Toer, 2001c: 342-343).
Ia sulit untuk mengerti dan memahami pikiran dan tingkah laku, angan-angan dan sepak terjang Minke, bahkan ia menentang segala kegiatan Minke yang berkaitan dengan perjuangan Minke menghadapi pemerintah kolonial melalui tulisan maupun organisasi. Namun akhirnya, ia memutuskan untuk berpihak pada Minke, bahkan menjadi pelindung Sjarikat di dalam kawasannya (Ananta Toer, 2001c: 540-541). Lebih lagi, ia telah mendirikan sebuah sekolah gadis yang cukup bagus di Blora (Ananta Toer, 2001d: 397).
Gadis Jepara, Siti Soendari, dan Surati
Ketiga gadis ini memiliki satu kesamaan, yaitu tidak mau menyerah begitu saja pada nasib. Dengan caranya masing-masing, ketiga gadis itu berusaha memperjuangkan citacitanya, walaupun kesudahan yang dialami ketiganya sangat berbeda.
Gadis Jepara adalah seorang putri bupati Jepara. Ia hidup dalam lingkungan di mana sistem feodalisme berlaku dengan ketat. Ia hanya mengalami kebebasannya pada masa kecil sampai menanti masa pingitan, di mana hidupnya kemudian hanya berkisar di dalam rumah. Meskipun dalam situasi demikian, ia tekun sekali belajar. Ia memiliki pemikiran yang bagus untuk perempuan bangsanya, dan ia menuangkannya lewat tulisan-tulisan dan surat-suratnya yang membuat kagum banyak orang, termasuk Minke. Oleh karena pemikirannya yang cukup tajam, pemerintah kolonial Hindia-Belanda berusaha membungkamnya dengan mendesak ayahnya supaya segera menikahkannya. Akhirnya dia menikah dengan bupati Rembang. Ia mati pada usia yang masih sangat muda.
Siti Soendari adalah seorang gadis dari Pemalang, putri dari seorang teman Minke pada saat masih bersekolah (Ananta Toer, 2001d: 306). Soendari tidak dididik dalam suasana dan lingkungan feodalistik. Ia mengatakan, “Sudah sejak kecil sahaya ditimang-timang oleh ayahanda untuk menjadi wanita bebas. Tak pernah ayahanda melarang apapun yang sahaya perbuat asalkan tidak membahayakan keselamatan dan kehormatan keluarga dan diri sendiri” (Ananta Toer, 2001d: 327). Ia adalah seorang nasionalis muda yang membenci kolonialisme. Ia berjuang bersama para nasionalis muda lainnya melalui tulisan-tulisannya dalam koran maupun melalui orasi-orasinya di depan publik. Pemerintah merasa bahwa gadis jelita itu punya keyakinan dan pendapat yang berlainan dari keinginan Gubermen. Oleh karena itu, Gubernur Jawa Tengah memberi isyarat pada asisten residen Pekalongan, agar ayah Soendari sudi mengendalikan putrinya dengan segera mengawinkannya. Prosedur ini telah dilaksanakan terhadap gadis Jepara dengan berhasil, tetapi Soendari tidak mau mengalami nasib yang sama dengan gadis Jepara. Ia menghindari rencana itu dengan melarikan diri.
Surati adalah putri Paiman, kakak Nyai Ontosoroh. Karena ambisi ayahnya, ia terpaksa harus menjadi gundik Tuan Besar Plikemboh. Namun, Surati tetap tidak ingin selama-lamanya menjadi nyai. Surati mempunyai tekad untuk ‘menyelesaikan sendiri kesudahannya’ (Ananta Toer, 2001b: 163). Akhirnya Surati menempuh jalan menulari dirinya sendiri dengan wabah cacar. Dia datang kepada Plikemboh dengan harapan mati segera. Akhirnya, Plikemboh yang mati tertulari cacar dari Surati, sedangkan Surati sendiri terselamatkan.
Sastrotomo dan Paiman
Dua tokoh ini mewakili manusia Jawa yang ambisius. Sastrotomo tidak puas dengan jabatannya sebagai jurutulis. Ia impikan jabatan yang lebih tinggi kendati jabatannya sudah cukup tinngi dan terhormat. Ia memimpikan jabatan sebagai jurubayar, kassier pemegang kas pabrik gula Tulangan, Sidoarjo. Demi jabatan itu, berbagai jalan ditempuhnya. Sanikem bercerita tentang sikap ayahnya itu, “Tindakannya yang menjilat dan merugikan temantemannya menjadikannya tersisih dari pergaulan. Ia terpencil di tengah lingkungannya sendiri. Tapi ia tidak peduli” (Ananta Toer, 2001a: 82). Pada akhirnya, ia tega menjual anaknya sendiri, Sanikem, kepada administratur pabrik gula, Tuan Herman Mellema, demi jabatan jurubayar yang diimpikannya.
Tidak jauh beda dengan Paiman. Ia menyerahkan Surati, anaknya kepada Tuan Besar Vlekkenbaaij (oleh masyarakat diplesetkan menjadi Plikemboh), administratur pabrik gula saat itu, sebagai ganti jabatan. Walaupun dikisahkan bahwa Paiman dijebak oleh Tuan Besar Plikemboh sehingga ia harus memilih antara membayar kembali uang yang hilang atau menyerahkan Surati, toh Paiman tetap saja menyimpan ambisi besar untuk mempertahankan jabatannya sebagai jurubayar, suatu jabatan yang sangat bergengsi dan dihormati banyak orang. Ia menyatakan:
Tapi jabatan:-dia segala dan semua bagi Pribumi bukan tani dan bukan tukang. Harta benda boleh punah, keluarga boleh hancur, nama boleh rusak, jabatan harus selamat. Dia bukan hanya penghidupan, di dalamnya juga kehormatan, kebenaran, hargadiri, penghidupan sekaligus. Orang berkelahi, berdoa, bertirakat, memfitnah, membohong, membanting tulang, mencelakakan sesama, demi sang jabatan. Orang bersedia kehilangan apa saja untuk dia, karena, juga dengan dialah segalanya bisa ditebus kembali. Semakin jabatan mendekatkan orang pada lingkungan orang Eropa, semakin terhormatlah orang (Ananta Toer, 2001b: 146).
Golongan Petani
Penjajahan selama tiga ratus tahun membuat kaum petani pada umumnya menjadi terpuruk dan tidak berdaya. Kekalahan terus-menerus yang mereka alami selama itu membuat mereka begitu takut dan tunduk pada penguasa kolonial. Penindasan yang mereka alami bukan hanya dari pemerintah kolonial, tetapi juga dari penguasa pribumi. Ketakutan kaum petani Jawa ini ditunjukkan melalui sebuah brosur dari Magda Peters yang mengatakan:
Petani Jawa takut pada semua yang bukan petani, karena dari pengalaman berabad mereka mengerti tanpa sadarnya, semua yang berada di luar mereka secara sendiri-sendiri atau bersama adalah perampas segala apa dari diri mereka... Maka setiap orang dari golongan apa saja, yang tampil, dapat menghibur dan mengambil hatinya, akan mereka ikuti, baik dalam beribadah, berangkat ke medan-perang atau pun tumpas dari kehidupan... mereka bisa membikin amock, bukan karena hendak membela diri, menyerang atau membalas dendam, hanya karena tak tahu apa lagi yang harus diperbuatnya setelah kesempatan hidupnya yang terakhir dirampas juga (Ananta Toer, 2001b: 184-185) .
Situasi terpuruk ini membuat sebagian besar dari mereka kehilangan harapan dan kepercayaan akan diri sendiri. Mereka lebih suka bermimpi bahwa pada suatu hari nantipenguasa akan bermurah hati kepada mereka dan membebaskan mereka dari belenggu
penjajahan ini.
Golongan Terpelajar
Kaum terpelajar adalah mereka yang mendapat pengetahuan Eropa melalui sekolahsekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial. Mereka dididik untuk mengabdi kepada Gubermen. Akibatnya, sangat sedikit orang terpelajar yang mengenal bangsa dan kebutuhan bangsanya. Kebanyakan mereka hanya mengenal kebutuhan nafsu mereka sendiri. Mereka kurang peduli bahwa maju-mundurnya bangsa ini sangat ditentukan oleh penguasaan ilmu pengetahuan.
Sikap jelek kaum terpelajar ini lebih nampak ketika Minke mendirikan Serikat Priyayi. Minke berpikir bahwa kaum terpelajarlah yang dapat memelopori suatu organisasi modern. Namun ternyata, mereka hanya sekedar memikirkan perut mereka sendiri. Mereka sudah terlanjur merasa mapan dengan kondisi mereka sehingga enggan untuk turut campur dalam urusan-urusan yang bisa membahayakan status mereka, meskipun itu demi bangsa mereka sendiri.
Tokoh Lain
Masih ada beberapa tokoh manusia Jawa lainnya yang menjadi pelaku dalam tetralogi Pramoedya. Namun, karena tokoh-tokoh itu hanya disebut sekilas dan kurang menunjukkan suatu gambaran tentang manusia Jawa, penulis hanya akan mengemukakan sekilas saja tentang mereka.
Wardi, Tjipto, Marko, Sandiman, Tomo, dll. Adalah para nasionalis muda yang berjuang melawan kolonialisme dengan caranya masing-masing, baik lewat tulisan maupun organisasi.
Istri Sastrotomo, yaitu ibu dari Sanikem, digambarkan sebagai perempuan yang terlalu tunduk pada suaminya. Ia tidak mampu berbuat apa-apa untuk mempertahankan Sanikem yang akan diserahkan kepada Herman Mellema oleh suaminya. Sedangkan Djumilah, istri Paiman, cukup berani melawan suaminya, walaupun terancam perceraian. Meskipun hanya denngan suara dan kata-kata, ia berjuang untuk mempertahankan Surati. Namun usahanya sia-sia karena Surati memilih untuk memenuhi kehendak ayahnya.
Gambaran Manusia Jawa dalam Tetralogi Pramoedya Ananta Toer
Manusia Jawa dan Sikap Feodalistik
Sikap feodalistik sangat meresapi berbagai segi dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pramoedya juga menampilkan sikap feodalistik manusia Jawa ini dalam novelnya. Apa itu feodalisme? Feodalisme adalah suatu mental attitude, sikap mental terhadap sesama dengan mengadakan sikap khusus karena adanya pembedaan dalam usia atau kedudukan (Hardjowirogo, 1984: 11).
Pramoedya (2001a: 133) melukiskan salah satu contoh feodalisme itu dalam buku pertama tetraloginya. Di dalamnya, dilukiskan tentang bagaimana seorang bupati memerintah kota kabupatennya sebagai seorang raja kecil, yang oleh rakyat biasa disebut Gusti Kanjeng. Untuk menghadap seorang bupati di kediamannya, seorang rakyat harus mencopot alas kakinya dan jalan berlutut.
Sikap feodalistik ini dilukiskan lebih tegas lagi ketika Ibunda Minke memberikan wejangan kepada Minke, “Itu tanda kau bukan Jawa lagi, tak mengindahkan siapa lebih tua, lebih berhak akan kehormatan, siapa lebih berkuasa ... Orang Jawa sujud berbakti pada yang lebih tua, lebih berkuasa, satu jalan pada penghujung keluhuran. Orang Jawa harus berani mengalah” (Ananta Toer, 2001a: 141) .
Sikap feodalistik ditunjukkan pula dalam penggunaan tingkatan-tingkatan bahasa Jawa. Seorang yang lebih tua atau lebih tinggi kedudukannya menggunakan bahasa ngoko kepada orang yang lebih muda atau lebih rendah kedudukannya. Sebaliknya, orang yang lebih muda atau rendah kedudukannya menggunakan krama inggiol kepada yang lebih tua atau tinggi kedudukannya. Hal ini tampak jelas dalam seluruh tetralogi Pramoedya. Misalnyaantara Minke dan ayahanda atau ibundanya, antara Minke dengan kusir kereta, antara bupati dengan rakyatnya, dll.
Manusia Jawa dan Sikap Fatalistik
Ada pandangan umum bahwa di dalam hidupnya, orang Jawa biasanya bersikap fatalistik. Bagaimanapun baiknya manusia merancang hidupnya, kesudahannya Tuhanlah yang menentukan (Hardjowirogo, 1984: 26). Dalam tetraloginya, Pramoedya menunjukkan kebenaran pandangan itu, tetapi sekaligus juga menunjukkan bahwa tidak semua orang Jawa bersikap demikian. Ada juga orang Jawa yang berpandangan bahwa nasib manusia berada di tangan manusia sendiri. Takkan bisa tercapai sesuatu di dalam hidupnya bila ia tak berusaha sendiri untuk mencapainya.
Gambaran manusia Jawa dan sikap fatalistiknya digambarkan Pramoedya melalui tokoh ibunda Minke. Ibunda Minke melalui nasehat-nasehatnya kepada Minke dan melalui sikap hidupnya, menunjukkan bahwa ia adalah seorang yang nrima, menerima nasib apa adanya sebagai suatu yang memang diperuntukkan Tuhan baginya. Dia merasa bersyukur atas nasib yang diterimanya (Ananta Toer, 2001c: 64-65).
Manusia Jawa yang tidak bersikap fatalistik cukup jelas digambarkan melalui tokoh Nyai Ontosoroh, Surati, gadis Jepara, Siti Soendari, dan Minke sendiri. Mereka dengan caranya masing-masing berusaha untuk meraih apa yang diharapkan, dan berusaha untuk melepaskan diri dari nasib yang kurang baik untuk meraih nasib yang lebih baik.
Manusia Jawa dan Wayang
Boleh dikatakan bahwa wayang adalah identitas utama manusia Jawa (Ananta Toer, 2001c: 33). Orang Jawa hampir tidak dapat melepaskan diri dari wayang. Wayang berkaitan dengan penafsiran makna kehidupan manusia, seperti yang disampaikan Pramoedya (2001d: 104) melalui tetraloginya, “Memang dibutuhkan waktu untuk mempelajari garis-garis pokok pemikiran dalam wayang. Mengerti wayang adalah mengerti sejarah pandangan hidup danpandangan dunia manusia Jawa. Menguasai pewayangan sebagai subjek berarti menguasai manusia Jawa”
Manusia Jawa juga gemar mengidentifikasikan dirinya dengan tokoh wayang tertentu dan bercermin padanya untuk melakukan perbuatan dalam kehidupan sehari-harinya. Dalam tetraloginya, Pramoedya juga memunculkan unsur ini. Lewat ucapan tokoh Minke pada bundanya, Pramoedya (2001c: 487) bertutur demikian,
Ingat Bunda? Dulu pernah Bunda ceritakan pada sahaya tentang satria Bisma? Dia tewas di medan perang, Bunda. Bunda ceritakan dia hidup kembali dan hidup kembali setiap mayatnya menyentuh bumi? Dia hidup lagi, berperang lagi, mati lagi, dan juga hidup lagi serenta tersintuh lagi pada bumi.
Demikianlah tampak bahwa bagi orang Jawa, wayang dipakai sebagai penyamaan diri. Namun, fungsi wayang bukan hanya sekedar penyamaan belaka. Wayang lebih menjadi pemberi makna kehidupan. Banyak orang Jawa dalam memahami kehidupannya menganggap takdir atau nasibnya sebagai lakon yang dimainkan oleh dalang (Sardjono, 1992: 66). Dalam hal ini, yang dimaksud adalah Sang Dalang Tertinggi, yaitu Tuhan.
Manusia Jawa dan “Aja Dumeh”
Dumeh adalah suatu keadaan kejiwaan yang mendorong seseorang untuk bersikap serta berbuat tertentu selagi atau mumpung dia sedang berkuasa (Hardjowirogo, 1984: 52). Manusia Jawa dididik supaya jangan mengecewakan atau menyakiti hati orang lain karena pergantian ke arah yang baik. Untuk menjaga diri supaya tidak keweleh, tersanggah oleh perubahan keadaan, manusia Jawa harus melindungi diri terhadap akibat sikap dumeh.
Maka, dalam masyarakat Jawa timbullah ungkapan ‘aja dumeh’, yang bisa diartikan ‘jangan mentang-mentang’, jangan berpikir bahwa semua hal boleh dilakukan karena ia lebih unggul. Ungkapan ini dimaksudkan sebagai nasihat agar seseorang dalam bergaul dengan orang lain tidak melakukan sesuatu yang tidak berkenan di hati. Biasanya orang bersikap dumeh ketika mendapat kemujuran. Orang itu tidak ingat bahwa keadaan tidak pernah langgeng, selalu berubah.
Falsafah hidup manusia Jawa ini ditampilkan juga oleh Pramoedya dalam karyanya. Melalui nasihat-nasihat ibunda kepada Minke, Pramoedya (2001a: 141) bertutur, “Kau terlalu banyak bergaul dengan Belanda. Maka kau sekarang tak suka bergaul dengan sebangsamu, bahkan dengan saudara-saudaramu, dengan Ayahandamu pun. Surat-surat tak kau balas. Mungkin kau pun sudah tak suka padaku.” Lebih lanjut ia bertutur, “Bunda tak hukum kau. Kau sudah temukan jalanmu sendiri. Bunda takkan halangi, juga takkan panggil kembali. Tempuhlah jalan yang kau anggap terbaik. Haya jangan sakiti orangtuamu, dan orang-orang yang kau anggap tak tahu segala sesuatu yang kau tahu” (Ananta Toer, 2001a: 142).
Namun dalam kenyataannya, manusia Jawa, khususnya mereka yang memiliki kedudukan atau jabatan tinggi, sangat jarang yang memegang falsafah ini. Tak mungkin orang memegang falsafah ini sekaligus memiliki ambisi untuk dihormati, yaitu dengan memimpikan jabatan atau gelar terhormat, seperti halnya Satrotomo, Paiman, maupun para bupati.
Manusia Jawa dan “Nrima ing Pandum”
Dalam diri manusia Jawa juga ditekankan sikap nrima ing pandum, yaitu sikap menerima apa yang oleh Tuhan dibagikan kepadanya. Setiap orang mempunyai pandumannya, bagiannya sendiri-sendiri sebagaimana ditentukan oleh Tuhan. Untuk itu ia harus mengucap syukur kepada Tuhan yang telah berkenan menyediakan nasib sebagaimana yang ditentukan baginya. Pramoedya (2001c: 65) menampilkan unsur ini melalui ucapan Ibunda kepada Minke, “Orang Jawa melakukan segala karena sekedar hanya menjalani. Perintah- perintah datang dari Tuhan, dari Dewa, dari Raja. Setelah menjalankan perintah orang merasa berbahagia menjadi dirinya sendiri sampai datang perintah lagi. Maka dia bersyukur, mengenal terimakasih”. Dan melalui ucapan Paiman, Pramoedya (2001b: 159) bertutur, “Semua Allahlah yang membagi-bagikan nasib dan rejeki. Dialah yang menentukan segala-galanya sebagaimana Ia kehendaki.” Ditambahkan pula lewat perkataan ayahanda Minke kepada Minke, “Hanya karena petunjuk Tuhan orang bisa jadi bupati. Kalu Tuhan telah menunjuk engkau, jadilah kau bupati. Tak bakal ada kekuatan padamu untuk menolak, karena itu pembangkangan” (Ananta Toer, 2001c: 343).
Demikianlah tampak bahwa manusia Jawa takkan menuntut lebih banyak karena memang hanya sekianlah ukuran keberhasilan yang teruntuk baginya. Memang, boleh dikatakan bahwa ini merupakan suatu sikap fatalistik, tetapi manusia Jawa tidak bisa berbuat lain. Dengan menginginkan lebih banyak, dia sebenarnya menuntut Tuhan supaya memberi perlakuan lebih baik. Padahal Tuhan sudah menentukan ukuran keberuntungan dalam hidup
yang teruntuk baginya.
Pandangan tentang Lelaki Jawa
Lelaki Jawa dari kalangan mana pun, tampaknya hampir semuanya menunjukkan ciri-ciri yang mirip dalam beberapa hal tertentu. Salah satunya seperti yang telah dikemukakan di atas, yaitu sikap feodalistiknya. Hal lain misalnya mengenai pandangan mereka tentang eksistensi seorang istri. Yang cukup kelihatan adalah ‘dominasi’ pria terhadap istrinya. Pramoedya menggambarkan hal ini melalui tokoh Sastrotomo, ayah Sanikem/Nyai Ontosoroh. Melalui ungkapan Sanikem, Pramoedya (2001a: 84) bertutur, “Ibuku tak punya hak bicara, seperti wanita Pribumi seumumnya. Semua ayah yang menentukan.” Melalui gadis Jepara, ia juga bertutur, “... tak ada satu bangsa di dunia bisa terhormat bila wanitanya ditindas oleh pria seperti pada bangsaku, dan bila kasih sayang hanya pada bayi saja... sedang si ibu kembali menjadi hamba dari suaminya” (Ananta Toer, 2001c: 81). Pramoedya (2001a: 224) juga menunjukkan sikap lelaki Jawa terhadap wanita, “... pria Pribumi belum terbiasa memperlakukan wanita dengan lemah-lembut dan sopan, ramah dan tulus.”
Ciri lain yang tampak pada lelaki Jawa yang tertuang dalam karya Pramoedya itu adalah kesukaan mereka untuk meniru, bahkan mengidentifikasikan diri pada seseorang yang dianggap tinggi dan pantas dihormati. Dikatakan oleh Pramoedya (2001c: 228), “... sekali seorang bupati melakukan sesuatu, bawahannya akan meniru. Sedang bupati hanya meniru Belanda residennya. Meniru atasan jadi pola kebajikan.”
Suatu gambaran tentang perilaku seksual lelaki Jawa berkedudukan juga ditampilkan oleh Pramoedya. Digambarkan bahwa adalah suatu hal yang lazim bagi lelaki Jawa yang memiliki kedudukan terhormat untuk beristri lebih dari satu. Pramoedya (2001a: 83) bertutur melalui Sanikem, “Semestinya, sebagaimana lazimnya, ayahku beristri dua atau tiga, apalagi ayah mempunyai tanah yang disewa pabrik dan tanah lain yang digarap oleh orang lain.” Ditambahkan bahwa memiliki ‘piaraan’ atau istri simpanan adalah suatu adat yang terpuji di kalangan pegawai Pribumi (Ananta Toer, 2001b: 83). Bahkan ditegaskan pula, “Mana ada Jawa, dan bupati pula, bukan buaya darat? (Ananta Toer, 2001a: 11).
Melalui wejangan Ibunda kepada Minke menjelang pernikahan Minke dengan Annelies, Pramoedya (2001a: 350-351) menuturkan syarat-syarat yang harus ada pada satria Jawa, yaitu wisma, wanita, turangga, kukila, dan curiga. Wisma (rumah) adalah tempat kepercayaan sesama pada yang meninggali. Wanita adalah lambang kehidupan dan penghidupan, kesuburan, kemakmuran, kesejahteraan; tanpa wanita, satria menyalahi kodratnya sebagai lelaki. Tanpa turangga (kuda), tak jauh langkah seorang satria, dan pendek penglihatannya. Kukila (burung) lambang keindahan, kelangenan (hobby), segala yang tak punya hubungan dengan penghidupan, hanya dengan kepuasan pribadi. Dan curiga (keris) lambang kewaspadaan, kesiapsiagaan, keperwiraan, alat untuk mempertahankan yang empat sebelumnya.
Pandangan tentang Perempuan Jawa
Menarik bahwa Pramoedya menampilkan lebih dari satu tokoh perempuan dalam karyanya. Tak kalah menarik bahwa perempuan ditempatkan pada kedudukan yang tidak setara dengan kaum lelaki, namun juga diberikan sifat-sifat atau ciri yang terhormat kepada mereka dengan sederet kebaikan, antara lain kesetiaan, kepatuhan, kesabaran.
Melalui tokoh Djumilah, istri Paiman, Pramoedya (2001b: 148) menggambarkan bagaimana perempuan Jawa menyikapi keadaannya,
Istrinya tak pernah heran melihat suaminya tak tidur di rumah. Itu memang gaya hidup pria berjabatan. Ia takkan bertanya dari mana. Dan bukan adat seorang istri menggugat suami berjabatan. Bahkan tanpa menggugat pun seorang istri bisa terusir tanpa talak. Dalam hal-hal tertentu seorang istri mungkin berani menanyakan sesuatu perkara pada suami berjabatan, tetapi tidak dalam soal pelesiran suaminya. Ia diam, diam dengan segala cara, merasa kurang mampu melayani suami sebagaimana dikehendakinya.
Selanjutnya, mengenai pekerjaan seorang perempuan Jawa, Pramoedya menunjukkan adanya perbedaan antara kalangan ningrat/priyayi dengan kalangan kebanyakan/wong cilik. Pramoedya (2001c: 133) bertutur melalui ayahanda Minke, “Buat apa perempuan bekerja dan belajar kalau sudah jadi istri orang? Kurang berhargakah seorang suami maka istrinya ikut bersusah-payah? ... Hanya orang desa saja, orang tani, dua-duanya bekerja. Atau pedagangpedagang kecil itu.”
Perempuan Jawa, khususnya kalangan priyayi, selalu berusaha menempatkan kebahagiaan pada kehidupan perkawinannya. Istri golongan priyayi selalu berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan suaminya dengan pelbagai macam cara. Dan landasannya bukan hanya demi kepatuhan, kesetiaan dan pengabdian saja, melainkan juga demi mengikat agar suaminya tetap mencintainya.
Pramoedya (2001d: 302) juga menampilkan sebuah gambaran tentang perempuan Jawa yang ideal, utama, patut dicontoh, yaitu perempuan yang pandai bersolek dan bersopansantun, luwes dalam pergaulan, setiap saat sedia membantu dan menolong orang, tak undur terhadap kerja kasar atau halus, trampil di depan umum dan di rumah.
Kesimpulan
Dari hasil penggalian terhadap tetralogi Pramoedya Ananta Toer, penulis dapat menyimpulkan beberapa hal mengenai gambaran manusia Jawa berdasarkan tetralogi tersebut. Manusia Jawa dalam masyarakat tidak bisa lepas dari sikap feodalistiknya. Hal ini telah berlangsung turun temurun sejak dahulu dan masih berlangsung hingga kini, misalnya dalam penggunaan bahasa Jawa yang memiliki tingkatan-tingkatan sesuai dengan pembicara dan lawan bicaranya.
Sikap manusia Jawa yang juga cukup menonjol adalah sikap fatalistiknya, sikap nrima-nya. Falsafah nrima ing pandum cukup mengakar dalam diri manusia Jawa, khususnya wanita Jawa. Falsafah ini, mau tidak mau, mendorong pada sikap fatalistik, yaitu pasrah terhadap nasib. Namun, tidak semua manusia Jawa bersikap demikian. Banyak juga yang berpandangan bahwa nasib manusia ditentukan oleh manusia sendiri.
Nasehat yang baik yang dimiliki orang Jawa adalah ‘aja dumeh’. Suatu nasehat yang sungguh relevan untuk dilaksanakan dalam kehidupan bermasyarakat demi terciptanya suatu keadaan yang damai. Selanjutnya, manusia Jawa tidak bisa dipisahkan dari wayang. Wayang menjadi suatu pemberi makna hidup bagi manusia Jawa.
Mengenai kedudukan lelaki dan perempuan, dalam masyarakat Jawa masih terdapat pembedaan. Wanita lebih dianggap sebagai subordinate yang hanya pantas dipandang sebelah mata saja. Meskipun demikian, keberadaannya dibutuhkan sebagai pelengkap “ketidaksempurnaan” kaum lelaki.
Bahan Bacaan
Ananta Toer, Pramoedya. 2001a. Bumi Manusia. Jakarta: Hasta Mitra.
________. 2001b. Anak Semua Bangsa. Jakarta: Hasta Mitra.
________. 2001c. Jejak Langkah. Jakarta: Hasta Mitra.
________. 2001d. Rumah Kaca. Jakarta: Hasta Mitra.
Hardjowirogo, Marbangun. 1984. Manusia Jawa. Jakarta: Inti Idayu Press.
Magnis-Suseno, Franz. 1985. Etika Jawa. Jakarta: Gramedia.
Mulder, Niels. 1985. Pribadi dan Masyarakat di Jawa. Jakarta: Penerbit Sinar Harapan.
Sardjono, Maria A. 1992. Paham Jawa. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.
Label:
Buku,
Lelakon,
Pendidikan
18.12
LADY CHATTERLEY'S LOVER adalah novel kisah roman percintaan antara seorang pria pekerja kasar dengan seorang wanita dari kalangan aristokrat karangan D.H. Lawrence yang ditulis pada tahun 1928.
-- "Dan Connie pun terbaring disana tanpa sadar sambil menangis, tangisan tanpa makna, suara yang keluar dari tengah malam, bak seruan kehidupan. Dan pria itu mendengar semua itu dengan perasaan terpukau ketika benih kehidupannya menghambur di dalam diri Connie...---
Sungguh sempurna Lawrence mengurai suasana erotik dalam kalimat-kalimatnya.Dengan ritme yang naik turun, membawa pembaca masuk ke dalam imajinasi yang tak pernah putus dan terus berulang-ulang. Sebuah Novel yang layak dibaca. Cerita novel ini berasal dari peristiwa di biografi Lawrence yang tak bahagia hidup yang berkecukupan, dan ia mengambil inspirasi untuk membukukan dari Ilkeston di Kota Derbyshire di mana ia tinggal sebentar.
Awalnya dilarang terbit di AS dan Inggris. Isinya terlalu blak-blakan bicara seks, perkara yang kala itu masih tabu. Tetapi, antusiasme pembaca yang luar biasa memancing edisi bajakannya beredar luas: mula-mula di New York, lalu menerobos ke London, kemudian menyebar ke berbagai negeri di Amerika dan Eropa. Dengan segera novel ini laris dan diburu banyak orang. Pada akhir 1950-an, pengadilan menilai karya ini tidak pornografis. Belakangan, edisi layar lebar novel ini meraih Piala Cesar 2007—penghargaan setara Piala Oscar versi Prancis—sebagai film terbaik. Lady Chatterley’s Lover dicetak pertama kali secara pribadi oleh penulisnya pada 1928 di Florence, Italia. Melampaui masa 70 tahun sejak era penulisannya, karya yang sarat kritik sosial ini tetap jadi bacaan inspiratif dan mencerahkan tak hanya menyangkut cinta, seksualitas, dan situasi sosial yang “cacat”, tetapi juga terkait renungan mendalam ihwal makna hidup.
Kisahnya bertutur tentang perempuan cantik dari keluarga kaya, Connie, yang merasa tak bahagia dalam pernikahannya. Suaminya, seorang bangsawan bernama Clifford Chatterley, menderita lumpuh permanen akibat perang. Ketidakbahagiaan Connie berangsur susut tatkala dia menemukan keteduhan batin di bawah rengkuhan Oliver Mellors, penjaga kebun di pekarangan luas milik Chatterley. Bersama si tukang kebun, Connie menemukan kembali harapan hidup.
Lady Chatterley's Lover
Written By Kang Naryo on Jumat, 09 Juli 2010 | 18.12
LADY CHATTERLEY'S LOVER adalah novel kisah roman percintaan antara seorang pria pekerja kasar dengan seorang wanita dari kalangan aristokrat karangan D.H. Lawrence yang ditulis pada tahun 1928.-- "Dan Connie pun terbaring disana tanpa sadar sambil menangis, tangisan tanpa makna, suara yang keluar dari tengah malam, bak seruan kehidupan. Dan pria itu mendengar semua itu dengan perasaan terpukau ketika benih kehidupannya menghambur di dalam diri Connie...---
Sungguh sempurna Lawrence mengurai suasana erotik dalam kalimat-kalimatnya.Dengan ritme yang naik turun, membawa pembaca masuk ke dalam imajinasi yang tak pernah putus dan terus berulang-ulang. Sebuah Novel yang layak dibaca. Cerita novel ini berasal dari peristiwa di biografi Lawrence yang tak bahagia hidup yang berkecukupan, dan ia mengambil inspirasi untuk membukukan dari Ilkeston di Kota Derbyshire di mana ia tinggal sebentar.
Awalnya dilarang terbit di AS dan Inggris. Isinya terlalu blak-blakan bicara seks, perkara yang kala itu masih tabu. Tetapi, antusiasme pembaca yang luar biasa memancing edisi bajakannya beredar luas: mula-mula di New York, lalu menerobos ke London, kemudian menyebar ke berbagai negeri di Amerika dan Eropa. Dengan segera novel ini laris dan diburu banyak orang. Pada akhir 1950-an, pengadilan menilai karya ini tidak pornografis. Belakangan, edisi layar lebar novel ini meraih Piala Cesar 2007—penghargaan setara Piala Oscar versi Prancis—sebagai film terbaik. Lady Chatterley’s Lover dicetak pertama kali secara pribadi oleh penulisnya pada 1928 di Florence, Italia. Melampaui masa 70 tahun sejak era penulisannya, karya yang sarat kritik sosial ini tetap jadi bacaan inspiratif dan mencerahkan tak hanya menyangkut cinta, seksualitas, dan situasi sosial yang “cacat”, tetapi juga terkait renungan mendalam ihwal makna hidup.
Kisahnya bertutur tentang perempuan cantik dari keluarga kaya, Connie, yang merasa tak bahagia dalam pernikahannya. Suaminya, seorang bangsawan bernama Clifford Chatterley, menderita lumpuh permanen akibat perang. Ketidakbahagiaan Connie berangsur susut tatkala dia menemukan keteduhan batin di bawah rengkuhan Oliver Mellors, penjaga kebun di pekarangan luas milik Chatterley. Bersama si tukang kebun, Connie menemukan kembali harapan hidup.
Label:
Buku







