Headlines News :
Home » » Hidup Adalah Kesadaran Waktu: Catatan Imaji Buku Megatruh di Awal Senja

Hidup Adalah Kesadaran Waktu: Catatan Imaji Buku Megatruh di Awal Senja

Written By Kang Naryo on Sabtu, 12 Oktober 2019 | 00.05

Oleh:
Cak Sariban* 


Membaca empat puluh lima puisi Mas Naryo mengingatkan betapa kita tersentak oleh waktu. Setidaknya Mas Naryo melalui puisi-puisinya mendedah pikir rasa kita terhadap kesadaran suasana, saat, di mana kita berada. Saya sebagai pembaca merasa diingatkan oleh penyair: banyak waktu indah terabaikan oleh tiadanya kesadaran kita sendiri.
 

Inilah talenta Mas Naryo yang saya rasa jika terus diasah dalam kerja kreativitas akan suatu saat nanti dia menjadi penyair kebanggaan Tuban, Indonesia. Saya menyebutnya dia sebagai "penyair suasana". Jika pun mau dipadankan dengan kepenyairan nasional, karya-karya Mas Naryo yang lebih banyak memotret kesadaran suasana atau waktu tadi mirip kerja kreatifnya dedengkot penyair kita Sapardi Djoko Damono yang fenomenal melalui Harmonium-nya itu.
 

Waktu yang disadari, dirasakan, digauli, disetubuhi, dinikmati hingga ekstase katarsis itu dapat kita lihat melalui puisi awal dan diyakini oleh penyair sebagai judul antologi yang pas: “Megatruh”. Selembar daun waru kian mongering/ketika selarik bujuk rayu sore mencerai petang/gurat merah membias cahaya pudar/rapuh menantang kedigdayaan malam/disaat merah mentari gelisah untuk berlalu/tak sabar menunggu dekap dalam bimbang//.
 

Sketsa suasana natural yang lebih mengedepankan seting pedesaan hingga penyair menemukan diksi daun waru, sore mencerai petang, merah membias cahaya pudar, rapuh menantang kedigdayaan malam, mentari gelisah, sebagai bukti peyair adalah pemotret waktu yang ulung. Kita dibawa keeksotikan senja, lukisan laksana tekstrur langit merah arah barat, misteri malam, dan imaji indah lain atas diksi Mas Naryo ini. Jika pembaca memiliki amunisi imaji setara dengan sang penyair, puisi-puisi Mas Naryo  akan ber-reinkarnasi menjadi sederet puluhan lukisan yag dipajang di ruang pameran besar: yakni kepala sang imaji.

Catatan kedua,
  Mas Naryo sungguh penyair yang berpotensi menjadi penulis naratif yang baik. Imaji dalam larik-larik puisi yang sama kita temukan: Seorang lelaki berdiri dengan kaki sarat daki keletihan/ tanpa selembar alas menatap langit berona pelangi/ raganya terdiam dalam dingin di kaki senja/ mengurai bait kidung podang di ranting cemara/ di hamparan lautan perdu perburuan tanpa jeda//. 


Sungguh deskriptif naratif ini  juga kita jumpai pada bait puisi lain. Misalnya pada puisi lain dengan bait berikut:
 

Wahai perempuan di awal malam,
Apa yang kau ribangkan?
Bukankah mantera suci telah kau genggam?
Untuk apa kau tanak asmara Keillahian
Bila bilur ruhmu tersampir keraguan

    

Dialogial yang ditokohkan  menjelma sosok kedua dalam bayang komunikasi penyair dengan orang lain,--the other--. Lebih menjauh lagi dalam komunikasi kritis kita lihat penyair sebagai tokoh yang mempertanyakan tokoh lain terhadap eksistensi diri, ketuhanan, ataukah esensi lain dalam hidup ini. Yang jelas kita sama-sama tahu bahwa penyair menyandarkan sebuah pertanyaaan kritis sebuah hakikat.

Catatan ketiga,
Mas Naryo adalah penyair yang konsisten. Dia menjaga rima. Memilih diksi cukup ketat dengan syarat muatan makna. Yang lebih menarik dan tidak dijaga keruntutan imajinasinya oleh penyair lain dan ini dipertahankan Mas Naryo adalah bagaimana dia menata pikir rasanya kesan yang dirasakan awal kembali dirajut dalam kesan rasa akhir. Ini tentu sangat memudahkan imaji pembaca untuk masuk pada dunia penyair. Lihatlah misalnya kutipan pada puisi “Megatruh” bait awal dan bait akhir berikut:
 

Selembar daun waru kian mengering
ketika selarik bujuk rayu sore mencerai petang
gurat merah membias cahaya pudar
rapuh menantang kedigdayaan malam
....
 

Sang pejantan pun tersenyum
menatap daun waru kering yang mulai luruh
terhempas di tanah gersang
....
    


Jalan pikir imaji yang sama yakni mempertahankan imaji awal dan akhir dalam sebuat tautan bait juga kita temukan pada puisi berikut:
 

Jejak Katuridan
 

Kesatria muda mengurai letih pada senyap malam
Bebasan katepang ngrangsang gunung
Sang pemimpi tercampak dari peraduan
Mengurai lakon di selembar benang
....
 

Kesatria muda merentang pelukan
Mengeja kata terindah pada paruh malam
Menjejak langkah penuh harap pada senyum rembulan
Mengelantung dilangit biru yang tak pernah kelam//
 
.... 

Akhirnya, setinggi hamba melompat imaji jatuhnya pada Tuhan pula. Mas Naryo menyebutnya dengan diksi yang nyaman bagi dirinya: yakni Gusti. Lihat kutipan puisi "Secawan Ribang Tentangmu"   dengan bait berikut:
...
Adikku,
tahukah kau akan hakekat rasa
yang dipahat Gusti pada selapis langit
di malam-malam kelam bersama mimpi
tentang keagungan cinta dari Illahi
yang menyelimuti kisah lara pada persimpangan
...
 

Gusti,
aku ingin berbaring di pangkuanmu
sambil meronce tasbih kesakralan
seraya menggumam ayat kesucian
yang mampu menepis bilur kerinduan
tentang kecintaan yang tak tersampaikan
pada siang maupun malam
 


Nada yang sama kita jumpa pada puisi "Lara pada Dinding Kepalsuan" yang urai bait tentang Gusti itu asyik masyuk:  Gusti ijinkan aku mengurai senyapnya malam ini/ menjalin rumpun gelagah dan buluh, tuk jadi gelaran nan elok/ songsong wangi mawar di pagi buta/ teriring kicau gereja penuh damai//. 

Ya, damai itu --ataukan indah itu-- ada hanya pada masa, waktu, tempat, suasana dimana simbol-simbol ritual ibadah diparafrasekan Mas Naryo melalui indah perempuan dalam peribadatan. Mari kita rasakan sajak "Selembar Rukuh di Betis Petang"  dengan bait penuh pesona ke-Ilahian berikut:

Angin demikian lembut menarikan ujung jilbab
Perempuan muda dibekap sunyi di betis senja
Sendiri dalam kesenyapan tanpa rasa
Menarikan jiwa kelana tak bertepi
Menunggu sapaan syair Illahi di awal petang
 

Kelopak bunga rambutan tersenyum
Melepas seluet mentari meniti peraduan
Sang perempuan tanpa hasrat dalam diam
Terlilit renungan panjang sebuah perjalanan
 

Wahai perempuan di awal malam,
Apa yang kau ribangkan?
Bukankah mantera suci telah kau genggam?
Untuk apa kau tanak asmara Keillahian
Bila bilur ruhmu tersampir keraguan
 

Selembar kain rukuh, terurai bersama lirikan rembulan
Menutup jendela petang bertabur rona gemintang
Perempuan muda melangkah di persimpangan
Menggenggam ayat suci kenabian
Yang dibaiat alam kelanggengan
 

Beranda surau tua pun berbilas warna keriangan
Menunggu ruh Illahi bertandang
Membasuh lara jiwa-jiwa yang gersang
Pada malam-malam panjang
Bernoktah pasrah pada asmara Sang Khaliq
 

Jemari lentik perempuan pun bergetar
Menarikan ronce tasbih keimanan
Bibir tipisnya merona menghembus nafas harmoni
Burung malam pun terdiam dalam senyap
Mengikuti rapal ayat suci dari kitab lawas
Yang dititah alam kelanggengan
 


Akhirnya apa yang kita rasa pada puncaknya Mas Naryo  dalam puisi  "Kuhandel di Bilik Kelambu" bilang begini:
 

Aku kalah, Gusti
Aku pasrah, Selepas injin-MU
Aku penuhi undangan-Mu
Aku terima pinang-Mu
Sambutlah, Sambutlah
Aku ingin menangis
Dengan hati yang bernyanyi
Di pangkuan-MU
 


Tak ada kebahagiaan yang sejati  kecuali berasa cinta pada sang kekasih dari segala mahakekasih. Ke mana dan di mana dalam rasa bersama Gusti. Kuyakin Mas Naryo akan sampai ke sana dengan kerendahan, kepasrahan, ketidakmengertian, penerimaan, dan entah ndlosor sebagai hamba melebihi eksistensi sampah agar Gusti welas memberi rasa itu. Oh indahnya. Aku ikut Mas Naryo. Hehehe. 


*Cak Sariban: Kritikus Sastra Kab. Tuban

Share this article :

Posting Komentar

 
Support : Gubuk Maya Kang Naryo | Mas Template
Copyright © 2009. GubuK Maya | Kang Naryo - All Rights Reserved
Created by Gubuk Maya | Kang Naryo
Powered by Blogger